Memutar Ulang Waktu Karya Gabriella Chandra: Tentang Penyesalan dan Kesempatan Kedua

Posting Komentar
Pernah nggak sih merasa hidup berjalan begitu-begitu saja? Sampai akhirnya berpikir, “Coba saja dulu aku mengambil keputusan yang berbeda.”

Atau pernah engga berandai-andai memiliki pintu Doraemon supaya bisa kembali ke masa lalu dan memperbaiki semua penyesalan?

Saya sendiri pernah merasakan hal itu, apalagi ketika masih remaja dulu. Ketika teman-teman sibuk mengikuti berbagai organisasi, lomba, atau kegiatan sekolah lainnya, saya justru lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar dan fokus pada satu bidang tertentu. Akibatnya, saya sering merasa kehidupan saya lebih datar dibandingkan teman-teman saya.

Kalau ada yang relate, coba deh baca buku yang berjudul “Memutar Ulang Waktu”. Sebuah novel yang coba saja sudah saya baca semenjak masih sekolah dulu. Jadi, kalau dari kalian ada yang sering merasa hidupnya membosankan sampai-sampai menyesali keputusan hidup yang telah dipilih di masa lalu, novel ini benar-benar recommended, deh.
“Jika kamu bisa kembali ke masa lalu dan mengubah sejarah hidupmu, apakah hidupmu sekarang akan berubah menjadi lebih baik?”

Memutar Ulang Waktu Karya Gabriella Chandra

Buku ini menceritakan tentang kehidupannya Shella yang ia rasa membosankan. Anak semata wayang itu seringkali berharap bisa memutar ulang waktu untuk memperbaiki dan mengubah keputusan yang pernah ia ambil sejak sekolah dulu. Padahal, kehidupannya saat ini terlihat baik-baik saja. Meskipun tidak memiliki saudara kandung, dia tetap bisa tinggal serumah bersama orang tuanya, punya sahabat yang baik sejak SMP, dan punya pacar yang baik, setia, dan mapan. Bahkan untuk pekerjaan pun nggak perlu dikhawatirkan lagi karena dia merupakan CSO (Customer Service Officer) di Bank Perwira.

Kelihatannya sudah bagus, kok. Malahan itu menjadi kehidupan yang sangat saya impikan, hehe. Tapi, kok dia merasa kurang, ya?
Tokoh Utama Ingin Kembali ke Massa Lalu
Itulah manusia, ada saja yang dikeluhkan olehnya. Kehidupannya seperti itu ia anggap membosankan. Sehingga, ia berpikir untuk bisa kembali ke masa lalu agar bisa memperbaiki kehidupannya yang waktu itu dihabiskan untuk belajar menjadi masa sekolah bisa mengikuti banyak ekstrakurikuler dan didekati oleh cowok-cowok yang disukai olehnya.

Pada akhirnya, keinginannya terwujud. Ketika ia sedang duduk santai di taman kota, tiba-tiba datang seorang bapak tua yang misterius dan mengatakan bahwa dia bisa mewujudkan keinginan Shella. Karena keinginannya yang begitu kuat, maka gadis itu pun mengikuti perintah dari pria berkumis itu. Ia benar-benar kembali ke masa lalu dan memperoleh kesempatan kedua untuk menjalani hidup dengan pilihan yang berbeda.

Tapi, apakah Shella benar-benar bisa mengubah kehidupannya menjadi lebih bahagia? Jawabannya bisa kalian temukan ketika membaca novelnya sampai selesai.

Pelajaran untuk Pembaca

Selain ringan, novel ini juga berkaitan dengan tema Reading Challange ODOP pada pekan kedua, yaitu buku yang memengaruhi kehidupan saya. Sebagai anak yang overthinking, penyesalan tentang masa lalu menjadi salah satu perkara yang sering kali terlintas dalam benak. Apalagi ketika melihat pencapaian teman-teman. Wih, perasaan menyesalnya semakin tebal deh, hehe. Saking terlalu banyak penyesalan itulah sampai-sampai membuat nggak produktif.

Padahal, masa lalu merupakan hal yang tidak dapat dikendalikan. Memang iya, kejadian di masa lalu terjadi atas keputusan kita. Tapi, kembali ke masa lalu adalah hal yang mustahil, bukan? Oleh karena itulah, jadikan kesalahan pada masa lalu sebagai pembelajaran bagi diri kita. Sekarang fokus saja sama kondisi yang dapat kita kendalikan, yaitu kehidupan saat ini. Ini juga relate dengan yang dikatakan oleh Om Piring pada acara bedah buku Filosofi Teras di tahun lalu. Di mana pada waktu itu ada yang bertanya tentang bagaimana cara mengatasi overthinking. Ia pun menjawab dengan fokus dan hadir sepenuhnya dengan apa yang ada di depan mata kita atau apa yang sedang kita kerjakan. Karena over thinking (terlalu banyak berpikir) itu lawan kata dari under doing (sedang melakukan).

Jadi, novel ini mengingatkan saya bahwa tidak menyesali masa lalu menjadi salah satu cara kita mensyukuri kehidupan yang telah Allah berikan kepada kita. Kisah yang dialami oleh Shella menyadari saya bahwa
“Rancangan Tuhan terindah dan terbaik jauh melebihi rancangan manusia” - Halaman 202

Ulasan Buku Memutar Ulang Waktu

Hal yang paling saya sukai dari novel ini adalah premisnya yang sederhana tetapi dekat dengan kehidupan banyak orang. Siapa sih yang tidak pernah menyesali keputusan di masa lalu? Sebagai anak yang pernah remaja, kisah seperti ini rasanya relate. Makanya, novel ini masuk ke dalam genre Young Adult (YA).

Apalagi alur cerita yang ditulis begitu ringan sehingga mudah dipahami sampai selesai. Bahasa yang digunakan juga sederhana sehingga cocok dibaca oleh remaja maupun orang dewasa yang sedang ingin membaca novel dengan tema refleksi diri.
Novel Young Adult: Memutar Ulang Waktu Karya Gabriella Chandra

Oh iya, kalau kalian belum tahu, buku ini diterbitkan pada tahun 2015. Sudah lama, kan ya?

Tapi meskipun begitu, pesan yang disampaikan ternyata masih relevan sampai sekarang. Bahkan menurut saya, konflik dalam novel ini memang tidak terlalu rumit sehingga sebagian pembaca mungkin bakal bisa menebak arah ceritanya. Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat pesan utamanya lebih mudah dipahami.

Pada akhirnya, Memutar Ulang Waktu bukan hanya menceritakan tentang perjalanan Shella kembali ke masa lalu. Tetapi juga mengajari saya untuk berdamai dengan diri sendiri dan menerima bahwa setiap keputusan yang pernah diambil telah membawa saya menjadi pribadi seperti sekarang.

Jadi, jika akhir-akhir ini kamu sering memikirkan "seandainya dulu...", semoga novel ini layak masuk ke daftar bacaan kalian, ya.

Judul Buku: Memutar Ulang Waktu
Penulis: Gabriella Chandra
Jumlah Halaman: 204 Halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2015
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar