“Apakah saya gagal karena tidak ikut organisasi?”Apalagi kalau mengingat perkataan senior saya ketika masa putih abu-abu yang lalu. Katanya, sebenarnya yang paling kita sesali bukanlah gagal karena mencoba, tapi gagal karena engga pernah mencoba sama sekali. Rasa takut gagal juga banyak membuat kita kalah sebelum bertanding. Padahal kalau ikut tanding, kita punya kesempatan 50:50 untuk menang. Tapi kalau engga ikutan, sudah pasti 100% kalah. Mungkin karena itu juga teman saya bilang “tak keren”. Baginya, saya telah kehilangan banyak proses pembelajaran di dalam organisasi.
Namun, semua sudah berlalu. Kesedihan itu tidak akan mengembalikan masa open recruitment lagi, kecuali untuk periode kepemimpinan selanjutnya yang dipimpin oleh angkatan berikutnya. Jadi sekarang, saya tidak ada pilihan lagi kecuali memaksimalkan keputusan yang telah diambil.
![]() |
| Design your life |
Kegagalan Bukanlah Akhir dari Segalanya, Jadi Bersahabatlah Dengannya
Pada saat itu, saya mulai mencari cara agar tidak terjebak terlalu lama dalam penyesalan. Syukurnya, waktu itu saya jumpa dengan postingan Kak Rica yang tengah melatih mentalnya kalau keburukan atau kegagalan bukanlah akhir dari kehidupan kita di dunia. Katanya, daripada membiarkan dua hal tersebut menghantui hari dan pikiran, ia selalu berlatih untuk berpikir,“Apa pelajaran dari kegagalan, kesedihan, dan kehilangan yang saya dapatkan ini?”Alih-alih menghakimi dan menyalahkan Allah sebagai Penciptanya, orang-orang sekitarnya, ataupun situasi yang sedang dihadapinya, Kak Rica coba mengamati apa yang salah pada dirinya sendiri sehingga ia dapat berubah dan melakukan sesuatu untuk mengatasinya.
Ia pernah bilang ke sahabatnya, “Saya lagi belajar untuk mudah mengikhlaskan sesuatu yang Tuhan ambil dariku, karena sesungguhnya apapun yang Tuhan berikan hanyalah titipan.” Ucapan ini secara tidak langsung melatih dirinya untuk selalu berpikir positif akan rencana Tuhan dan selalu menjaga motivasi pada diri walaupun sedang mengalami masa-masa sulit.
Pola pikir seperti ini tidak datang dengan sendirinya. Ia dilatih, salah satunya dengan mengubah cara kita berbicara pada diri sendiri. Daripada mengatakan, kenapa sih harus saya terus yang diuji? Lebih baik katakan “Ya Allah, lagi mau ngajarin saya apa kali ini?” atau “Ada kebaikan-kebaikan apa ya yang menantikan saya setelah ini?”
Daripada bilang, hanya orang-orang berprivilege yang bisa seperti itu. Mending bilang, “Setiap orang memiliki kelebihan maupun kekurangan. Saya sangat bersemangat untuk mencari tahu dan meningkatkan semua milik saya.”
Daripada mengatakan, “Keren ya, orang-orang bisa pinter banget. Saya sudah terlalu tua untuk mencoba.” Lebih baik katakan, “Why not? Pertama kali memang selalu menyebalkan, tapi akhirnya menyenangkan kok.”
Maka, cara untuk menghadapi kegagalan adalah dengan memperbaiki mindset kita. Ini juga yang diterapkan oleh Fellexandro Ruby yang ia ceritakan di dalam bukunya “You Do You”. Dengan membenahi mindset-nya, hal-hal yang orang sebut kegagalan malah dia anggap sebagai persiapan. Justru ketika ia gagal, ketika ia salah, ia jadi belajar cara yang benar untuk melakukan sesuatu.
![]() |
| Bounce back dari kegagalan |
Dari pengalaman inilah saya akhirnya sadar bahwa yang paling menentukan bukan pilihan ikut atau tidak ikut organisasi, melainkan bagaimana saya memaknai kegagalan itu sendiri. Saya juga belajar bahwa walaupun bukan satu-satunya jalan, mengikuti organisasi bisa menjadi salah satu sarana belajar selagi menjadi mahasiswa. Makanya, meskipun sudah melewatkan pendaftaran hima, saya masih bisa mencari kegiatan lain yang sama-sama bermanfaat seperti magang, penelitian, kerja part-time, dan kegiatan lain.
Down? Iya. Capek? Pasti. Berhenti? Engga dong.
Ada banyak hal dalam hidup yang membutuhkan proses. Termasuk gagal yang merupakan bagian dari proses itu sendiri. Karena dibalik gagal, ada pembelajaran yang kita dapatkan.
Bertumbuh bukan berarti harus selalu berhasil
Bertumbuh bukan berarti menjauhi kegagalan
Bertumbuh adalah belajar dari semua situasi, baik keberhasilan maupun kegagalan
Growth Mindset vs Fixed Mindset
“Ada musim untuk segala sesuatu. Ada musim menabur, ada musim menuai. Proses dihadirkan sebagai bagian dari perjalanan. Bukan untuk dilompati, tapi dinikmati.” - Buku You Do You halaman 98
Menurut Fellexandro Ruby dalam bukunya, setiap orang bakal melewati tiga musim. Musim pertama adalah musim benih untuk orang yang berusia 20-an, musim kedua adalah musim pertumbuhan yang diperuntukkan bagi orang yang usia 30-an, dan yang terakhir adalah musim matang untuk mereka yang berusia 40-an. Jadi, kita sebagai anak yang berusia 20-an seharusnya jangan kaget jika banyak kesulitan yang hadir, karena sebenarnya kesulitan itu ada untuk membentuk dan mempersiapkan diri kita supaya layak bersanding dengan orang-orang terbaik di musim 30-an.
“You should be taking your riskiest bet, working the hardest, and investing the most in yourself in your twenties.” – Buku You Do You halaman 100
Jadi, kita harus menikmati proses kegagalan itu dengan growth mindset. Istilah ini sudah ada saya tulis di artikel lain. Lawannya adalah fixed mindset. Perbedaan antara dua istilah itu dapat dilihat pada tabel berikut.
![]() |
| Perbedaan growth mindset dan fixed mindset |
Orang yang memiliki pola fixed mindset bakal memilih opsi yang aman dan pasti berhasil. Sebab ia beranggapan bahwa anak cerdas harus selalu berhasil sehingga ia lebih takut terlihat bodoh. Sementara orang yang memiliki growth mindset akan merasa bahwa tantangan adalah cara mereka bertumbuh. Kalaupun nantinya gagal, ia akan menganggap bahwa ini adalah bagian dari pembelajaran. Dengan memiliki growth mindset¸ mereka tidak akan keberatan jika harus mengeluarkan usaha lebih untuk mencapai segala sesuatu. Mereka juga tidak akan takut terlihat bodoh sesaat, karena mereka akan berpendapat, “Selagi aku belajar sesuatu yang baru, itu tandanya aku sedang bergerak maju.”
“I don’t divide the world into the weak and strong, or the success and the failures, I divide the world into the learners and non-learners.” – halaman 216



Posting Komentar
Posting Komentar