“Postingan seperti apa yang biasanya membuat kalian merasa insecure?”Perjalanan untuk menerapkan self-worth ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Meskipun sudah beberapa kali menulis tentang pengembangan soft skills dan kesehatan mental, saya tetap menemukan banyak tantangan saat mencoba menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi di era media sosial seperti sekarang ini.
Padahal, platform-platform tersebut sebenarnya diciptakan dengan tujuan yang baik, loh. LinkedIn dan Instagram pada dasarnya diciptakan agar penggunanya dapat membagikan pengalaman, kemampuan, maupun aktivitas mereka kepada orang lain. Bahkan, khusus untuk LinkedIn, hal tersebut juga dapat membuka peluang profesional dan karier.
Namun, yang ditampilkan di media sosial itu sebenarnya hanyalah highlight kehidupan seseorang yang telah dikurasi sedemikian rupa. Fakta ini juga diperkuat oleh teman saya yang menjadi lulusan pemuncak tingkat prodi karena berhasil menuntaskan perkuliahan selama 3,5 tahun sendiri. Kurang lebih ia mengatakan,
“Engga apa-apa orang hanya tahu 3,5 tahunnya aja. Yang penting mereka engga melihat perjuangan aku yang sampai gila ini.”Apakah itu salah? Pada akhirnya saya sadar bahwa ini engga salah, kok. Setiap orang kan punya hak untuk memosting apa pun yang mau dia posting selama tidak mengandung isu-isu sensitif seperti unsur SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan).
Nah, kalau sudah tahu begitu, seharusnya kita tidak perlu merasa insecure, kan? Toh, kita juga paham bahwa apa yang tampil di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang.
Namun, mengetahui fakta tersebut ternyata tidak cukup untuk menghilangkan perasaan insecure. Ada kalanya kita tetap merasa tertinggal ketika melihat teman yang lulus lebih cepat, mendapat pekerjaan impian, atau terlihat memiliki kehidupan yang jauh lebih baik dari kita.
Kalau dipikir-pikir, masalahnya mungkin bukan terletak pada postingan orang lain. Sebab, setiap orang memang berhak membagikan pencapaiannya. Hal yang lebih penting, yaitu bagaimana kita memaknai postingan tersebut dan bagaimana cara kita memandang diri sendiri setelah melihatnya.
Di sinilah saya mulai menyadari bahwa rasa insecure sering kali berkaitan dengan self-worth. Ketika kita belum benar-benar merasa berharga, kita akan lebih mudah menjadikan pencapaian orang lain sebagai alat ukur nilai diri kita.
![]() |
| Self-Worth di Era Media Sosial: Mengapa Kita Mudah Insecure dan Cara Mengatasinya |
Untungnya, pada bulan lalu gritty.id mengadakan webinar khusus untuk memperingati Bulan Kesehatan Mental. Pada webinar tersebut, saya tidak hanya belajar tentang cara menerapkan self-worth secara teoritis, tetapi juga memahami bagaimana media sosial dapat memengaruhi cara pandang kita terhadap diri sendiri. Dari sana saya belajar bahwa rasa insecure yang muncul saat scrolling sebenarnya bisa dikelola agar tidak sampai mengganggu keseharian kita.
Lalu, bagaimana cara membangun self-worth yang tinggi di tengah derasnya arus media sosial? Yuk, baca artikelnya sampai selesai.
Tanda-Tanda Self-Worth yang Rendah
Self-worth atau keberhargaan diri adalah keyakinan bahwa diri kita itu berharga sebagai manusia, terlepas dari pencapaian, penampilan, maupun validasi sosial. Dengan kata lain, setiap orang pada dasarnya sudah berharga karena memiliki keunikan masing-masing. Perbedaannya hanya bagaimana cara kita memandang diri sendiri.Seseorang yang memiliki self-worth rendah biasanya menunjukkan beberapa tanda seperti di bawah ini.
1. Sulit menetapkan batasan (boundaries)
Orang dengan self-worth yang rendah sering kali merasa tidak enak untuk mengatakan "tidak". Akibatnya, ia cenderung mengorbankan kebutuhan diri sendiri demi memenuhi harapan orang lain.2. Merasa tidak pantas menerima pujian
Ketika mendapatkan apresiasi, ia sering menganggap keberhasilan tersebut hanyalah keberuntungan atau sesuatu yang biasa saja. Ia bakal kesulitan mengakui bahwa dirinya memang layak diapresiasi.
3. Merasa harus selalu membuktikan diri
Ada dorongan untuk terus menunjukkan prestasi agar dianggap berharga. Akibatnya, nilai diri menjadi bergantung pada pencapaian yang berhasil diraih.4. Mudah bergantung secara emosional pada validasi orang lain
Perasaan bahagia atau sedih sering ditentukan oleh komentar, pujian, atau penilaian dari lingkungan sekitar. Ketika validasi itu tidak didapatkan, rasa percaya diri pun ikut menurun.5. Takut menjadi diri sendiri karena khawatir ditolak
Orang yang memiliki self-worth yang rendah cenderung menyesuaikan diri secara berlebihan agar diterima oleh lingkungan. Akibatnya, ia jadi sulit menunjukkan pendapat, minat, atau kepribadian yang sebenarnya.6. Takut gagal secara berlebihan
Kegagalan sering dipandang sebagai bukti bahwa dirinya tidak cukup baik. Padahal, kegagalan merupakan bagian alami dari proses belajar dan berkembang.7. Obsesi terhadap citra diri di media sosial
Orang yang memiliki self-worth yang rendah cenderung fokus pada bagaimana dirinya terlihat di mata orang lain, mulai dari jumlah likes, komentar, hingga kesan yang ditampilkan melalui unggahan di media sosial.Dari poin-poin di atas, mana yang sedang kalian alami saat ini?
![]() |
| Tanda-tanda self-worth rendah |
Selain mengenali tandanya, jangan lupa untuk mencari tahu penyebab di balik rendahnya self-worth tersebut. Penyebabnya tidak selalu berasal dari media sosial. Bisa jadi berasal dari pola asuh, lingkungan pertemanan, pengalaman masa lalu, maupun lingkungan sekolah dan pekerjaan. Dengan memahami akar masalahnya, kita juga akan lebih mudah menentukan langkah yang tepat untuk mengatasinya.
Pentingnya Memiliki Self-Worth yang Tinggi
Bertemu dan belajar banyak dari Sekretaris 1 selama KKN kemarin membuat saya semakin menyadari pentingnya memiliki self-worth yang tinggi. Pada webinar kemarin, Kak Raras menjelaskan beberapa dampak positif yang dapat dirasakan ketika seseorang memiliki self-worth yang tinggi.1. Memiliki relasi yang lebih sehat
Karena mampu menerima kelebihan dan kekurangan dirinya sendiri, orang yang memiliki self-worth yang tinggi juga mampu menghargai orang lain. Ia tidak sungkan menerima pujian, sekaligus tidak ragu memberikan apresiasi kepada orang lain. Hal inilah yang membuat interaksi dengannya terasa nyaman dan menyenangkan.2. Tidak mudah goyah oleh kritik
Baginya, kritik bukanlah serangan terhadap harga diri, melainkan kesempatan untuk berkembang. Ia memandang kritik sebagai masukan untuk perbaikan, bukan sebagai bukti bahwa dirinya gagal.3. Lebih berani mencoba hal-hal baru
Orang yang memiliki self-worth yang tinggi akan memahami bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Baik keberhasilan maupun kegagalan hanyalah bagian kecil dari perjalanan panjang seseorang dalam bertumbuh dan belajar.![]() |
| Pentingnya Memiliki Self-Worth yang Tinggi |
Pengalaman tersebut membuat saya bersyukur dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki cara pandang sehat terhadap dirinya sendiri. Dari sana saya semakin memahami bahwa self-worth yang tinggi bukan hanya berdampak pada diri sendiri, tetapi juga memengaruhi cara kita berinteraksi dengan orang lain. Karena itulah, pada webinar ini Kak Raras juga menjelaskan beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membangun self-worth di era media sosial.
Cara Membangun Self-Worth di Era Media Sosial
Self-worth yang tinggi ternyata berawal dari self-love. Sebab, keberhargaan diri tidak semata-mata ditentukan oleh komentar, pujian, atau penilaian orang lain. Validasi dari orang lain memang menyenangkan, tetapi itu hanyalah bonus. Fondasi utamanya tetap berasal dari diri sendiri, yaitu kemampuan untuk mengakui bahwa kita berharga apa adanya.Menurut Kak Raras, terdapat empat cara yang dapat dilakukan untuk membangun self-worth di era media sosial.
1. Mengenali diri sendiri
Luangkan waktu untuk memahami nilai, kelebihan, kekurangan, serta hal-hal yang benar-benar penting bagi diri kita. Semakin mengenal diri sendiri, semakin kecil kemungkinan kita mendefinisikan diri berdasarkan standar orang lain.2. Praktik self-compassion
Perlakukan diri sendiri dengan kebaikan yang sama seperti ketika kita memperlakukan sahabat terdekat. Saat melakukan kesalahan, cobalah memberi ruang untuk belajar daripada terus menyalahkan diri sendiri.3. Fokus sama progres diri
Setiap orang memiliki titik awal, kemampuan, dan perjalanan hidup yang berbeda. Oleh karena itu, lebih baik membandingkan diri kita hari ini dengan diri kita di masa lalu daripada terus membandingkannya dengan orang lain.4. Bangun kehidupan offline
Memiliki aktivitas, relasi, dan pengalaman di dunia nyata membantu kita menyadari bahwa hidup tidak hanya terjadi di layar ponsel. Semakin kaya kehidupan offline yang dimiliki, semakin kecil kemungkinan untuk menggantungkan nilai diri pada media sosial.![]() |
| Cara Membangun Self-Worth di Era Media Sosial |
Namun, membangun self-worth saja terkadang belum cukup. Kita juga perlu mengelola cara menggunakan media sosial agar tidak terus-menerus terjebak dalam perbandingan sosial yang membuat kita merasa kurang. Oleh karena itu, Kak Raras juga membagikan beberapa strategi agar kita bisa lebih mindful saat menggunakan media sosial.
Strategi Supaya Lebih Mindful di Media Sosial
Apa saja yang bisa dilakukan agar media sosial tidak mudah memengaruhi self-worth kita? Berikut enam strategi yang dibagikan oleh Kak Raras dan bisa mulai kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari.1. Lakukan audit media sosial
Cobalah meninjau kembali akun-akun yang kita ikuti. Pertahankan akun yang memberikan manfaat, inspirasi, atau pengetahuan baru, dan pertimbangkan untuk mengurangi paparan dari akun yang justru memicu emosi negatif.2. Memanfaatkan fitur hide, mute, atau block
Tidak semua konten harus kita konsumsi. Jika ada akun atau konten yang berulang kali membuat kita merasa iri, insecure, atau overthinking, tidak ada salahnya memanfaatkan fitur-fitur tersebut demi menjaga kesehatan mental.3. Membatasi doom scrolling
Doom scrolling dalam waktu yang lama bisa membuat otak kelelahan karena menerima terlalu banyak informasi. Karena itu, penting untuk memberi batasan waktu dalam menggunakan media sosial.4. Gunakan media sosial dengan tujuan yang jelas
Sebelum membuka aplikasi, cari tahu duluapa yang ingin dilakukan. Setelah tujuan tersebut selesai, cobalah untuk menutup aplikasi agar tidak terjebak dalam aktivitas scrolling yang tidak disadari5. Menyadari konten yang menjadi pemicu emosional (emotional trigger)
Setiap orang memiliki pemicu yang berbeda-beda. Dengan menyadari jenis konten yang sering membuat kita merasa sedih, iri, cemas, atau tidak percaya diri, kita bisa lebih bijak dalam mengatur paparan konten yang masuk ke dalam kehidupan kita.6. Melakukan puasa media sosial
Mengambil jeda dari media sosial sesekali dapat membantu kita mengembalikan fokus pada kehidupan nyata. Misalnya dengan tidak membuka TikTok selama satu bulan atau tidak mengakses LinkedIn selama beberapa minggu.Dari poin sebanyak itu, mana saja strategi yang sudah kamu lakukan?
![]() |
| Quote penutup |
Semoga rangkuman webinar ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Seperti yang disampaikan oleh Kak Raras, semoga kita bisa semakin mengenal diri sendiri, memahami perjalanan hidup masing-masing, dan berhenti membandingkan hidup kita dengan highlight kehidupan orang lain di media sosial. Sebab, keberhargaan diri yang tinggi dimulai ketika kita berhenti membiarkan internet mendefinisikan nilai diri kita.





Posting Komentar
Posting Komentar