“Kayaknya aku nggak punya bakat, deh. Sampai sekarang aja, aku belum nemu bakatku apa,” keluh seseorang pada hari itu.
Jujur, saat itu saya bingung harus menjawab apa selain menyarankannya untuk memperbanyak eksplorasi. Karena hanya itu yang saya lakukan selama ini, meskipun sampai sekarang saya juga masih terus bereksplorasi.
Hingga akhirnya, saya menemukan tes talents mapping di gritty.id. Meskipun pada hari itu harganya cukup tinggi bagi saya yang masih mahasiswa, tapi saya teringat sebuah postingan Kak Rica yang ini.
![]() |
| Pentingnya Talents Mapping |
“Orang yang pintar itu banyak, tapi orang yang tahu bakatnya apa itu yang tidak banyak.”
Setelah menerima banyak insight dari hasil tes talents mapping dan sesi konsultasi, saya menjadi sadar bahwa perkataan mereka ada benarnya. Saya tahu apa saja kelebihan dan kelemahan yang saya miliki, bagaimana cara menghadapinya, sampai apa saja yang bisa saya lakukan untuk mempersiapkan karier setelah lulus kuliah. Menariknya, konsultan saya pada saat itu bekerja di bidang teknologi, khususnya AI. Keren, bukan?
Jadi, buat kalian yang masih bingung dengan bakat kalian, saya sangat menyarankan untuk mencoba tes talents mapping ini. Dengan mengenali diri sendiri, kita bisa membuat keputusan hidup yang lebih baik, termasuk dalam menentukan jurusan kuliah maupun jalur karier yang sesuai dengan kepribadian kita.
Apa Itu Talents Mapping?
Menurut Pak Ugi, talents mapping (peta bakat) merupakan sebuah pendekatan yang diperkenalkan oleh Abah Rama Royani untuk mengidentifikasi serta menganalisis kekuatan dan kelemahan diri. Pendekatan ini meyakini bahwa setiap orang memiliki bakat kuat (kelebihan) dan bakat lemah (kelemahan).![]() |
| Urutan Bakat |
Setiap orang pasti memiliki bakat. Bakat bisa berasal sejak lahir, dipengaruhi oleh lingkungan, dan diperdalam melalui pengetahuan serta keterampilan yang diperoleh selama proses bertumbuh. Namun dalam pengembangannya, ada yang mampu mencapai tahap excellent (unggul), dan ada pula yang hanya sampai di tahap bisa. Inilah yang menyebabkan setiap individu memiliki bakat kuat dan bakat lemah. Bakat kuat jika diasah akan mendatangkan energi, kemudahan, dan rasa kepuasan. Sementara bakat yang lemah cenderung menguras energi jika sering digunakan.
Namun, bakat lemah bukan berarti harus dihindari sepenuhnya. Dalam hidup, kita pasti akan menggunakan dua bakat tersebut. Hanya saja jumlah porsinya yang perlu diatur. Kita perlu menyiasatinya dengan memilih peran yang lebih banyak menggunakan bakat kuat, sementara bakat lemah digunakan seperlunya saja. Misalnya seperti saya yang bakat kuatnya adalah analytical, namun bakat lemahnya adalah communications. Maka, saya disarankan untuk memilih aktivitas yang dominannya ke arah analisis, bukan yang dominan ke arah komunikasi.
![]() |
| Contoh Peta Bakat |
Dari peta tersebut, saya disarankan untuk fokus mengasah tujuh tema bakat, yaitu analytical, intellection, context, consistency, responsibility, belief, dan connectedness. Meskipun termasuk bakat kuat, semuanya tetap perlu diasah karena bakat yang menang adalah bakat yang diasah.
Apa Contoh Kegiatan untuk Mengasah Bakat Kuat?
Setelah menyelesaikan assessment sesi pertama, saya melanjutkan ke sesi kedua, yaitu Personal Strength Statement (PSS) yang terdiri dari 114 pertanyaan. Hasil dari assessment tersebut adalah strength cluster map yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini.![]() |
| Strength Cluster Map |
Kegiatan yang dapat saya fokuskan untuk mengasahnya adalah kegiatan yang memiliki bakat kuat. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan yang memiliki kotak PSP (Personal Strength Potential) yang berwarna merah, seperti analysing, identifying, dan researching. Adapun kegiatan-kegiatan yang kotak PSP-nya berwarna kuning seperti programming, typewriting, designing menjadi bakat yang bisa saya dalami karena mendukung bakat kuat saya.
Bagaimana Cara Membangun Personal Branding?
Setelah mengetahui bakat kuat, bakat lemah, serta aktivitas yang mendukung, langkah selanjutnya adalah membangun personal branding berdasarkan hasil dari assessment Strength Typology (ST-30).ST-30 berisikan 30 jenis peran atau pekerjaan yang dapat dijadikan dasar dalam membangun personal branding, berdasarkan hasil aktivitas pada PSS. Setiap jenis peran memiliki skor yang berbeda. Pekerjaan dengan skor tertinggi merupakan pekerjaan yang paling sesuai dengan diri kita. Dari sana, saya disarankan untuk membangun personal branding berdasarkan lima peran teratas.




Posting Komentar
Posting Komentar