Cara Menyampaikan Boundaries kepada Orang Lain dengan Komunikasi Asertif

Posting Komentar
Bagaimana Cara Menyampaikan Boundaries kepada Orang Lain?

Sebelum masuk ke pembahasan, saya mau disclaimer dulu. Apa yang saya tulis dalam artikel ini bukan berarti saya adalah orang yang jago berkomunikasi atau seorang communication expert. Bahkan, jika melihat hasil tes talents mapping yang saya ikuti beberapa waktu lalu, komunikasi justru menjadi salah satu bakat lemah saya.

Namun, bakat lemah bukan berarti tidak bisa dipelajari, bukan? Terlebih di era sekarang, kemampuan komunikasi adalah salah satu life skill yang sangat penting untuk dimiliki. Karena itu, tulisan ini merupakan rangkuman dari materi webinar Boundaries and Communication yang saya ikuti tahun lalu, sekaligus pengingat pribadi agar saya bisa terus mempraktikkannya.

Kita mungkin sudah memahami apa itu boundaries dan bagaimana cara membangunnya. Tetapi, sebagai makhluk sosial yang hidup berdampingan dengan orang lain, boundaries tetap perlu dikomunikasikan. Sebab, orang lain tidak akan pernah tahu batasan kita jika kita sendiri tidak menyampaikannya.

Sayangnya, tidak sedikit orang (termasuk saya) yang masih gagal mengomunikasikan boundaries-nya dengan baik. Kesadaran inilah yang akhirnya mendorong saya untuk mengikuti webinar tersebut dan menuliskan kembali materinya, agar bisa benar-benar saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Materi ini dibawakan oleh Farisya Yuni, seorang communication and talents mapping practitioner.
Komunikasi Asertif




Antara Komunikasi Pasif, Asertif, dan Agresif

Komunikasi asertif (assertiveness) adalah kemampuan untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan secara jelas tanpa kehilangan rasa hormat—baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Inilah bentuk komunikasi yang paling ideal untuk menyampaikan boundaries, karena berada di titik tengah antara komunikasi pasif dan komunikasi agresif.

Lalu, apa perbedaan dari ketiga gaya komunikasi ini?

Pertama komunikasi pasif, yang sudah melekat di diri saya. Komunikasi pasif terjadi ketika seseorang merasa bersalah saat menyampaikan kebutuhan, sehingga cenderung menghindar dari konflik. Akibatnya, orang tersebut sering memilih diam, mengalah, atau memendam perasaan sendiri.

Padahal, konflik adalah sesuatu yang normal. Konflik selalu ada, tidak selalu buruk, dan tidak selalu baik. Meski sering dipersepsikan negatif, konflik justru bisa bersifat membangun. Menurut Manueke dan Harwanto (2024), konflik yang muncul dalam proses sering kali membantu meningkatkan kualitas keputusan di akhir (Ini juga reminder untuk saya sendiri).

Karena itulah komunikasi asertif menjadi penting. Dengan komunikasi asertif, kita bisa menyampaikan kebutuhan dan perasaan secara jelas dan tegas, namun tetap menghargai orang lain. Kita menyuarakan diri sendiri tanpa meniadakan perspektif lawan bicara.

Berbeda lagi dengan komunikasi agresif. Pada gaya komunikasi ini, seseorang menyampaikan kebutuhannya dengan cara yang cenderung menyerang, merendahkan, atau mengabaikan perasaan orang lain. Sebisa mungkin gaya komunikasi ini dihindari, sebab bisa menimbulkan risiko konflik yang jauh lebih besar.

Pada dasarnya, kebutuhan emosional manusia adalah merasa penting. Setiap orang ingin didengar, diapresiasi, diakui, dan tidak ditolak secara kasar. Itulah sebabnya, menyampaikan boundaries bukan sekadar soal “berani bicara”, tetapi juga soal bagaimana cara berbicara supaya tetap menghormati kedua belah pihak. Ketika kita berbicara tentang boundaries, sebenarnya kita tidak hanya sedang menjaga identitas diri, tetapi juga identitas lawan bicara.
Contoh komunikasi pasif, asertif, dan agresif

Menghormati Diri Sendiri dan Orang Lain

Dalam buku How to Win Friends and Influence People karya Dale Carnegie, yang juga disampaikan oleh Kak Farisya dalam webinar, terdapat tiga prinsip dasar untuk menghormati dan menghargai orang lain, yaitu:
1. Menunjukkan apresiasi yang tulus
2. Memberikan pengakuan kepada orang lain
3. Tidak meremehkan atau mempermalukan siapa pun, termasuk saat memberikan kritik atau saran

Saya jadi teringat pengalaman magang pada tahun lalu. Saat itu, saya sedang fokus mengerjakan project, lalu tiba-tiba ada seorang pegawai yang menghampiri dan mengajak kami ngobrolin hal-hal di luar konteks pekerjaan. Jujur, saat itu rasanya ingin marah karena fokus saya terganggu.

Namun, sebagai anak magang, tentu saya tidak berani mengungkapkan perasaan tersebut secara langsung, apalagi mengatakan, “Pak, jangan ganggu saya.”

Karena belum memahami komunikasi asertif, akhirnya saya memilih mengalihkan fokus dan mendengarkan obrolan tersebut, meski dalam hati merasa kesal. Padahal, jika saat itu saya sudah mempelajari komunikasi asertif, saya bisa menyampaikannya dengan gaya komunikasi ala Carnegie yang kurang lebih seperti ini, “Pak, sekarang saya lagi fokus ngoding. Bisa engga kita lanjutkan ngobrolnya setelah saya menyelesaikan satu fitur ini? Supaya saya bisa memberikan perhatian penuh saat kita berbicara.”
Contoh penerapan komunikasi asertif
Ketika seseorang merasa didengar dan dihargai, ia cenderung lebih terbuka dan menerima apa yang kita sampaikan. Sering kali, orang yang sedang bercerita tidak membutuhkan solusi atau perbandingan cerita, melainkan ingin didengar, diapresiasi, dan divalidasi emosinya. Setelah itu, barulah ia bersedia mendengarkan kita. Teknik komunikasi seperti ini tidak akan benar-benar dipahami tanpa latihan. Padahal, dampaknya sangat besar, baik dalam pertemanan, keluarga, maupun hubungan asmara. Karena itulah, komunikasi asertif perlu dilatih terus-menerus. Seperti yang disampaikan Kak Farisya dalam webinar:
“Most conflicts happen not because of the boundary itself, but because people feel emotionally invalidated.”

 

Langkah-Langkah Menerapkan Komunikasi Asertif

Langkah pertama dalam menerapkan komunikasi asertif adalah menyadari bahwa diri kita sendiri berharga. Dari kesadaran inilah kita bisa mulai menetapkan dan mengenali apa saja boundaries yang kita miliki. Setelah itu, menumbuhkan empati. Empati juga menjadi salah satu bakat lemah saya, tetapi bukan berarti tidak bisa dipelajari meskipun tidak bisa sampai di tahap “ahli”.

Sering kali, boundaries disampaikan dengan nada yang terlalu keras karena seseorang belum tahu cara menyampaikannya dengan lembut tanpa kehilangan ketegasan. Oleh karena itu, Carnegie mengajarkan komunikasi empatik, yaitu menyampaikan batasan dengan diawali apresiasi, menghargai hal-hal kecil, dan memberikan pengakuan yang tulus agar lawan bicara merasa dihargai, bukan ditolak.

Lalu, bagaimana jika lawan bicara justru membuat kita kesal?

Dalam kondisi seperti ini, boundaries tetap bisa disampaikan tanpa menghakimi. Cara kita menyampaikan batasan sangat memengaruhi respons lawan bicara. Oleh karena itu, penting bagai kita untuk tidak mengkritik di depan umum, membahas kesalahan secara personal, dan tetap berfokus pada solusi. Boundaries bukanlah alat untuk menyerang identitas seseorang, melainkan sarana untuk menciptakan hubungan yang lebih sehat.

Selain itu, jangan lupa untuk mengapresiasi orang-orang yang sudah menghormati boundaries kita. Apresiasi membuat orang lain merasa dihargai, dipercaya, dan dianggap mampu bekerja sama. Ketika seseorang merasa diakui, mereka cenderung lebih terbuka dan bersedia menjaga batasan yang telah kita sampaikan.
Jangan lupa sampaikan apresiasi


Teknik DEAR MAN untuk Berbicara dengan Jelas

Teknik DEAR MAN merupakan salah satu teknik komunikasi asertif dari DBT (Dialectical Behaviour Therapy) yang membantu kita menyampaikan kebutuhan dan boundaries secara jelas, tegas, namun tetap menghargai pihak lain. Teknik ini membuka peluang terciptanya win-win solution. Berikut penjelasan setiap poin DEAR MAN beserta contohnya dalam konteks menagih utang.
 

D – Describe (Jelaskan)

Sampaikan fakta apa adanya tanpa menyalahkan atau menghakimi.
Contoh: “Bulan lalu saya meminjamkan kamu 100 ribu, dan sampai sekarang belum dikembalikan.”
 

E – Express (Ungkapkan)

Ungkapkan perasaan atau kondisi pribadi dengan sudut pandang “saya”.
Contoh: “Saya benar-benar paham kalau kamu sibuk, tapi saya sangat membutuhkannya minggu ini untuk beberapa kebutuhan.”
 

A – Assert (Tegaskan)

Sampaikan permintaan secara jelas dan sopan.
Contoh: “Menurutmu, kapan kira-kira waktu yang tepat buat kamu mengembalikannya?”
 

R – Reinforce (Perkuat)

Jelaskan dampak positif jika permintaan dipenuhi.
Contoh: dengan pengembalian uang tersebut, kebutuhan saya terpenuhi dan hubungan tetap baik.
 

M – Mindful (Tetap Fokus)

Tetap pada topik utama meskipun lawan bicara mencoba mengalihkan pembicaraan.
 

A – Appear Confident (Tampilkan Kepercayaan Diri)

Sampaikan dengan nada tenang, jelas, dan tidak ragu-ragu.
 

N – Negotiable (Bersedia Bernegosiasi)

Buka ruang kesepakatan tanpa mengorbankan kebutuhan utama.

Dengan teknik ini, contoh komunikasi menagih utang yang asertif bisa berbentuk seperti ini:
“Hei, bestie! Gimana kabarnya? Bulan lalu saya meminjamkan kamu 100 ribu, dan sampai sekarang belum dikembalikan. Saya paham kalau kamu sibuk, tapi saya membutuhkannya minggu ini untuk beberapa keperluan. Menurutmu, kapan kira-kira waktu yang tepat untuk mengembalikannya?”
 

Penutup

Menjadi dewasa berarti mampu memaknai sesuatu dengan cara yang lebih sehat, meskipun situasinya tidak selalu menyenangkan, termasuk dalam hal berkomunikasi. Alih-alih melihat kesalahan orang lain dengan kaca pembesar, mungkin kita perlu lebih sering bercermin. Apakah cara komunikasi kita terlalu keras? Apakah boundaries kita belum cukup jelas? Atau justru kita yang belum menyampaikannya dengan baik?

Kemampuan komunikasi bukan skill instan. Ia membutuhkan waktu, latihan, dan kesediaan untuk terus belajar. Seperti saran Kak Farisya di akhir webinar: terbuka terhadap masukan, memilih lingkungan yang ingin bertumbuh, rutin menulis, dan membiasakan diri mendengarkan berbagai gaya komunikasi contohnya di TED Talks. Semakin sering kita mendengar dan mengamati, semakin terbiasa pula cara berpikir kita.
 

Referensi

Manueke, K. A., & Harwanto, B. (2024). Dampak Konflik Terhadap Performa Organisasi: Sebuah Tinjauan Literatur. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 10(13), 822–830.
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar