Dibesarkan dari lingkungan dan didikan keluarga yang beragam (ya, saya nomaden guys. Alhamdulillah) membuat saya sadar kalau saya termasuk “orang yang engga enakan”. Rasanya, sulit banget untuk minta tolong karena takut terkesan merepotkan, susah banget untuk bilang “tidak” kalau ada teman yang minta tolong, sekali bisa nolak malah merasa bersalah sampai mikir, “Ini orang kesel ga ya sama saya? Kalau kesel, saya harus ngapain nih?”
![]() |
| Ciri-ciri orang tidak enakan |
Apa Itu Boundaries?
Dari sebanyak opsi pada gambar ini, apakah ada yang relate dengan kondisi kalian?![]() |
| Tanda-Tanda Kekurangan Boundaries |
Kalau kita cari terjemahannya di google translate, boundaries itu batasan. Tapi kalau dipelajari lagi, boundaries adalah pagar yang memisahkan apa yang menjadi milik kita dan apa yang bukan milik kita, termasuk emosi, pilihan, waktu, energi, keyakinan, dan tanggung jawab. Boundaries tuh penting banget untuk dimiliki, karena bisa memberikan ketenangan batin dan pemikiran yang lebih jernih sehingga bisa berpengaruh ke respons tubuh kita secara psikologis.
![]() |
| Boundaries |
Tapi, kalau kita mengambil keputusan atas kemauan kita sendiri, kita bakal merasa puas meskipun gagal. Karena kita merasa bahwa kita telah mencoba yang terbaik, kita tahu hasilnya, dan itu yang kita mau. Tapi kalau misalnya sukses, malah itu yang membuat kita menjadi lebih bangga. Ini juga yang diceritakan sama Kak Rica tentang sebuah video yang pernah ia tonton. Tokoh dalam video itu (lupa namanya siapa) bilang “It’s okay kalau dia memilih hidup 5-10 tahun dalam kesulitan tapi berdasarkan keputusan sendiri, daripada hidup 20 tahun di bawah keputusan orang lain atau orang tua yang menyenangkan tapi di masa tuanya mulai menanyakan “what if…”, sehingga tidak memiliki kepuasan.”
![]() |
| Contoh resentment |
Mengapa Banyak Orang Sulit Menetapkan Boundaries?
Kalau dilihat dari kebiasaan saya yang sudah menyimpan rasa “engga enakan” selama bertahun-tahun, rasanya tidak mudah untuk menetapkan boundaries. Tapi karena ini merupakan sebuah tanggung jawab, jadi kenapa engga dicoba?Karena menetapkan boundaries juga bisa berpengaruh pada kehidupan kita nantinya, seperti membangun karier, menjalin hubungan asmara, hingga menjadi orang tua. Boundaries dapat menjadi pintu untuk menjalin hubungan yang sehat karena ia bakal melindungi diri kita dari manipulasi dan tekanan berlebihan sehingga hubungan menjadi lebih jujur, bertanggung jawab, dan dewasa.
Tapi, kenapa masih banyak orang (termasuk saya) sulit menetapkan boundaries?
Salah satu penyebabnya adalah rasa tidak enakan itu tadi. Lingkungan secara tidak langsung selama ini mengajarkan untuk harus menyenangkan semua orang. Hal ini yang membuat saya merasa bersalah dan berpikir, “Bagaimana kalau saya tidak mau? Bagaimana kalau nantinya saya dianggap tidak asyik sehingga saya kehilangan koneksi?”. Asumsi tersebut membuat saya setuju dengan pernyataan dari Nedra Tawwab ini.
“People who struggle with boundaries often confuse kindness with self-abandonment” - Nedra TawwabPadahal rasa bersalah itu sinyal pertumbuhan, bukan kesalahan. Sehingga rasa bersalah ini pasti bakal kita rasakan di awal-awal ketika kita ingin keluar dari pola yang salah. Jadi kalau merasa bersalah, engga apa-apa, terima dan validasi perasaan itu.
![]() |
| Validasi perasaan |
“Guilt is a signal of old training, not wrongdoing.” - Harrier LearnerPengalaman di komunitas pada tahun ini juga mengajarkan saya kalau tidak memprioritaskan diri juga bisa menjadi alasan kenapa kita sulit menetapkan boundaries. Kejadian itu mengajarkan saya akan pentingnya self-worth. Jadi kita boleh berbuat baik, tapi kita juga harus tahu sampai mana kapasitas diri kita. Karena boundaries itu sebenarnya bertujuan untuk menciptakan kapasitas memberi dari tempat yang sehat, bukan keterpaksaan. Sehingga, kita harus tetap menghargai dan mencintai diri kita.
“Feeling guilty doesn’t mean you’re doing something wrong, it means you’re breaking old unhealthy patterns.”
“If you feel resentment, exhaustion, or invisible-your boundaries need attention.”
Apa Saja Bentuk Boundaries?
Ternyata, boundaries itu ada banyak bentuknya. Apa saja itu?![]() |
| Bentuk-bentuk boundaries |
1. Emotional Boundaries
Bentuk boundaries yang pertama ini berkaitan dengan kemampuan membedakan emosi kita dan emosi orang lain seperti yang telah disebutkan di atas. Kita boleh berempati, tetapi kita tidak bertanggung jawab atas perasaan orang lain. Contohnya ketika ada teman yang curhat. Tugas kita hanyalah menjadi pendengar yang baik untuk dia, bukan harus menyelesaikan semua masalah hidupnya atau merasa bersalah kalau dia tetap sedih.2. Time and Schedule Boundaries
Kita memiliki waktu yang terbatas. Sehingga jika ada permintaan yang tidak sesuai dengan jadwal atau prioritas, kita bisa berkata tidak. Contohnya, memilih istirahat setelah capek ngoding seharian meskipun pada waktu itu ada yang ngajak nelpon sekitar jam sembilan malam dengan alasan pengen denger suara saya.3. Mental and emotional (energy) boundaries
Batasan ini berkaitan dengan kapasitas mental dan energi emosional kita. Tidak semua diskusi, konflik, atau drama perlu kita ikuti. Contohnya, memilih tidak menanggapi komentar yang melelahkan secara emosional atau mengambil jeda dari lingkungan yang menguras energi.4. Relational / interpersonal boundaries
Batasan dalam hubungan mengatur bagaimana orang lain, baik teman, pasangan, maupun keluarga memperlakukan kita. Contohnya, tidak mentoleransi candaan yang merendahkan, meskipun itu datang dari orang terdekat.5. Communication boundaries
Batasan ini berkaitan dengan cara dan waktu komunikasi yang kita anggap sehat. Contohnya mengatakan dengan jelas, “Saya butuh waktu untuk mikir dulu,” atau “Saya kurang nyaman membahas topik ini sekarang.”6. Digital boundaries
Sebagai anak yang menghabiskan banyak waktu di depan laptop karena semua tugasnya ada di sana, boundaries perlu banget diterapkan di dunia digital. Contohnya, tidak merasa wajib membalas chat secara cepat jika tidak penting dan urgent, serta membatasi screen time.Pada akhirnya, kita perlu memahami diri sendiri untuk menetapkan boundaries kita. Semoga artikel ini bermanfaat buat kalian yang sedang belajar menerapkan boundaries, ya.






Posting Komentar
Posting Komentar