“Kayaknya aku nggak punya bakat, deh. Sampai sekarang aja, aku belum nemu bakatku apa,” keluh seseorang pada hari itu.
Saat itu saya bingung harus
jawab apa selain menyarankannya untuk memperbanyak eksplorasi. Karena hanya itu
yang saya lakukan selama ini, meskipun sampai sekarang juga masih banyak skill
yang belum dijelajahi.
Bahkan menurut saya, kita perlu berhati-hati
dengan keluhan seperti itu, loh. Karena bisa jadi itu termasuk sebagai fixed mindset. Padahal, kita bisa menjadi seperti apa yang kita inginkan. Allah menitipkan
kita otak yang sifatnya seperti plastik (disebut sebagai neuroplasticity)
sehingga bisa dibentuk dengan cara membangun koneksi-koneksi baru berdasarkan
stimulus yang diberikan. Oleh karena itu, pentingnya menerapkan growth mindset
sebagai afirmasi yang menyertai kita ketika sedang memikirkan, melakukan, dan
merasakan tugas yang sedang kita garap atau kebiasaan baru yang sedang kita
bangun secara berulang-ulang.
Contohnya adalah kemampuan programming dan
designing. Berdasarkan hasil dari talents mapping, Kak Farisya selaku konselor
talents mapping di gritty.id pada waktu itu mengatakan bahwa saya ternyata berbakat
pada dua kemampuan tersebut karena kotak PSP-nya berwarna kuning. Hanya saja,
karena dua kegiatan itu sudah lama engga dilakukan, kebiasaan itu cenderung
kaku ketika diterapkan kembali. Ini sejalan dengan cara kerja otak yang
ternyata juga bisa memutuskan koneksi-koneksi lama terhadap kegiatan yang tidak
pernah dilakukan. Sehingga, bakat yang menang tetaplah bakat yang dilakukan secara
berulang-ulang.
Melalui talents mapping, kita akan mengenal apa saja bakat kuat (kelebihan) dan bakat lemah (kelemahan) yang kita miliki sehingga kita dapat memaksimalkan potensi diri kita. Makanya, meskipun pada saat itu harganya cukup tinggi bagi saya yang masih mahasiswa, saya tetap mengambilnya karena kata Kak Rica, investasi pada diri sendiri itu engga akan pernah rugi.
![]() |
| Pentingnya Talents Mapping |
“Orang yang pintar itu banyak, tapi orang yang tahu bakatnya apa itu yang tidak banyak.”
Jadi, buat kalian yang
masih bingung dengan bakat kalian, saya sangat menyarankan untuk mencoba tes
talents mapping ini. Dengan mengenali diri, kita bisa membuat keputusan hidup
yang lebih baik, termasuk dalam menentukan jurusan kuliah maupun jalur karier
yang sesuai dengan kepribadian kita.
Apa Itu Talents Mapping?
Menurut Pak Ugi, talents mapping (peta bakat) merupakan sebuah pendekatan yang diperkenalkan oleh Abah Rama Royani untuk mengidentifikasi serta menganalisis kekuatan dan kelemahan diri.![]() |
| Urutan Bakat |
Namun, bakat lemah bukan berarti harus dihindari sepenuhnya. Dalam hidup, kita pasti akan menggunakan dua bakat tersebut. Makanya, kita perlu menyiasatinya dengan memilih peran yang dominan menggunakan bakat kuat. Misalnya seperti saya yang bakat kuatnya adalah analytical dan bakat lemahnya adalah communications. Maka, saya disarankan untuk memilih aktivitas yang lebih banyak melibatkan analisis seperti peneliti, bukan yang lebih banyak menggunakan komunikasi seperti reporter.
![]() |
| Contoh Peta Bakat |
Apa Contoh Kegiatan untuk Mengasah Bakat Kuat?
Setelah menyelesaikan assessment sesi pertama, saya melanjutkan ke sesi kedua, yaitu Personal Strength Statement (PSS) yang terdiri dari 114 pertanyaan. Hasil dari assessment tersebut adalah strength cluster map yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini.![]() |
| Strength Cluster Map |
Bagaimana Cara Membangun Personal Branding?
Setelah mengetahui bakat kuat, bakat lemah, serta aktivitas yang mendukung, langkah selanjutnya adalah membangun personal branding berdasarkan hasil dari assessment Strength Typology (ST-30).ST-30 berisikan 30 jenis peran atau pekerjaan yang dapat dijadikan dasar dalam membangun personal branding, berdasarkan hasil aktivitas pada PSS. Setiap jenis peran memiliki skor yang berbeda. Lima pekerjaan dengan skor tertinggi merupakan pekerjaan yang paling sesuai dengan diri kita, sehingga kita bakal disarankan untuk membangun personal branding berdasarkan lima pekerjaan tersebut.




Ih seru banget mbaaa ikut talents mapping. Aku juga pernah ikutan sama pak Ugi tapi yang free, wkwkwk. Padahal emang bener investasi buat diri sendiri nggak rugi sama sekali. Aku jadi pengen nyoba juga nih, biar tahu kelebihan dan kekurangannya secara detail.
BalasHapusIya, kan kak. Btw, yang free tuh ada bedanya ya sama yang berbayar?
HapusTernyata bakat pun ada kategorinya, kuat, lemah, pendukung, dan lain-lain. Jangankan memahami orang lain, untuk memahami diri sendiri pun butuh effort yang tidak main-main. Kalau ada kesempatan pengen juga, nih, ikut talent mapping.
BalasHapusGas ikutan kak
HapusPas tahu bakat kita yang lebih dominan itu apa jadi makin pengen eksplor di bagian itu ya mbak. Lanjutin tulisannya tentang prosesnya secara konkret mbak. Ku tungguinnn yaaa.
BalasHapuswah, ada yang nungguin ternyata. Jadi semangat, deh.
HapusSekolah saya rutin melaksanakan tes talent mapping. Ternyata memang sangat membantu untuk bisa melihat potensi apa yang dimiliki oleh siswa. Jadi bisa menjadi panduan untuk mengarahkan siswa dalam memilih jurusan sesuai dengan hasil talent mapping.
BalasHapusIh, sekolah mana tuh? beruntung banget siswa/i yang sekolah di sana. Jadi tahu potensinya lebih cepat.
Hapussepakat, tidak banyak orang yang menyadari dan mengenali bakatnya, salah satu cara untuk mengenali bakat diri melalui tallent mapiing. saya pernah melakukan tes ini juga beberapa tahun yang lalu dan akhirnya saya menyadari apa bakat saya, tak mengapa terlambat tapi saat ini saya lebih mengenal diri saya sendiri
BalasHapuswah, sudah banyak ya yang nyobain tes ini. Dulu juga mikirnya gitu, kak. Ah sudah lambat deh. Tapi percayalah, kesempatan selalu datang kepada kita yang selalu mencoba
HapusTallent mapiing sangat bagus ya bisa mengenali bakat dengan tepat. Sehingga bisa terarah dalam mengasahnya. Semoga ada kesempatan untuk ikut, test tallent mapiing juag.
BalasHapusIya, amin
HapusTernyata ada cara lain untuk membangun personal branding. Saya baru tahu banget ini. Makasih, Mbak, atas sharing ilmunya.
BalasHapus