Mengenali Diri dan Membangun Personal Branding Melalui Tes Talents Mapping

13 komentar

“Kayaknya aku nggak punya bakat, deh. Sampai sekarang aja, aku belum nemu bakatku apa,” keluh seseorang pada hari itu.

Saat itu saya bingung harus jawab apa selain menyarankannya untuk memperbanyak eksplorasi. Karena hanya itu yang saya lakukan selama ini, meskipun sampai sekarang juga masih banyak skill yang belum dijelajahi.

Bahkan menurut saya, kita perlu berhati-hati dengan keluhan seperti itu, loh. Karena bisa jadi itu termasuk sebagai fixed mindset. Padahal, kita bisa menjadi seperti apa yang kita inginkan. Allah menitipkan kita otak yang sifatnya seperti plastik (disebut sebagai neuroplasticity) sehingga bisa dibentuk dengan cara membangun koneksi-koneksi baru berdasarkan stimulus yang diberikan. Oleh karena itu, pentingnya menerapkan growth mindset sebagai afirmasi yang menyertai kita ketika sedang memikirkan, melakukan, dan merasakan tugas yang sedang kita garap atau kebiasaan baru yang sedang kita bangun secara berulang-ulang.

Contohnya adalah kemampuan programming dan designing. Berdasarkan hasil dari talents mapping, Kak Farisya selaku konselor talents mapping di gritty.id pada waktu itu mengatakan bahwa saya ternyata berbakat pada dua kemampuan tersebut karena kotak PSP-nya berwarna kuning. Hanya saja, karena dua kegiatan itu sudah lama engga dilakukan, kebiasaan itu cenderung kaku ketika diterapkan kembali. Ini sejalan dengan cara kerja otak yang ternyata juga bisa memutuskan koneksi-koneksi lama terhadap kegiatan yang tidak pernah dilakukan. Sehingga, bakat yang menang tetaplah bakat yang dilakukan secara berulang-ulang.

Melalui talents mapping, kita akan mengenal apa saja bakat kuat (kelebihan) dan bakat lemah (kelemahan) yang kita miliki sehingga kita dapat memaksimalkan potensi diri kita. Makanya, meskipun pada saat itu harganya cukup tinggi bagi saya yang masih mahasiswa, saya tetap mengambilnya karena kata Kak Rica, investasi pada diri sendiri itu engga akan pernah rugi.

Pentingnya Talents Mapping
Begitu pula dengan ucapannya Kak Farisya pada kala itu,
“Orang yang pintar itu banyak, tapi orang yang tahu bakatnya apa itu yang tidak banyak.”

Jadi, buat kalian yang masih bingung dengan bakat kalian, saya sangat menyarankan untuk mencoba tes talents mapping ini. Dengan mengenali diri, kita bisa membuat keputusan hidup yang lebih baik, termasuk dalam menentukan jurusan kuliah maupun jalur karier yang sesuai dengan kepribadian kita.

Apa Itu Talents Mapping?

Menurut Pak Ugi, talents mapping (peta bakat) merupakan sebuah pendekatan yang diperkenalkan oleh Abah Rama Royani untuk mengidentifikasi serta menganalisis kekuatan dan kelemahan diri. 
Urutan Bakat
Setiap orang pasti memiliki bakat. Bakat bisa berasal sejak lahir, dipengaruhi oleh lingkungan, dan diperdalam melalui pengetahuan serta keterampilan yang diperoleh selama bertumbuh. Namun dalam pengembangannya, ada yang mampu mencapai tahap excellent (unggul), dan ada pula yang hanya sampai di tahap bisa. Inilah yang menyebabkan setiap individu memiliki bakat kuat dan bakat lemah. Bakat kuat jika diasah akan mendatangkan energi, kemudahan, dan rasa kepuasan. Sementara bakat yang lemah cenderung menguras energi jika sering digunakan.

Namun, bakat lemah bukan berarti harus dihindari sepenuhnya. Dalam hidup, kita pasti akan menggunakan dua bakat tersebut. Makanya, kita perlu menyiasatinya dengan memilih peran yang dominan menggunakan bakat kuat. Misalnya seperti saya yang bakat kuatnya adalah analytical dan bakat lemahnya adalah communications. Maka, saya disarankan untuk memilih aktivitas yang lebih banyak melibatkan analisis seperti peneliti, bukan yang lebih banyak menggunakan komunikasi seperti reporter.

Contoh Peta Bakat
Peta tersebut diperoleh dari hasil assessment talents mapping yang terdiri atas 170 soal pilihan ganda. Di dalamnya berisikan 34 tema bakat yang dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu thinking (berpikir), striving (tekun), influencing (memengaruhi orang lain), dan relating (berhubungan dengan orang lain). Setiap orang pastinya memiliki kombinasi potensi yang berbeda-beda. Bakat kuat saya cenderung ke kelompok thinking dan striving, kalau kamu cenderung ke mana?

Apa Contoh Kegiatan untuk Mengasah Bakat Kuat?

Setelah menyelesaikan assessment sesi pertama, saya melanjutkan ke sesi kedua, yaitu Personal Strength Statement (PSS) yang terdiri dari 114 pertanyaan. Hasil dari assessment tersebut adalah strength cluster map yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini. 
Strength Cluster Map
Kegiatan yang dapat saya fokuskan untuk mengasahnya adalah kegiatan yang memiliki bakat kuat. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan yang memiliki kotak PSP (Personal Strength Potential) yang berwarna merah, seperti analysing, identifying, dan researching. Adapun kegiatan-kegiatan yang kotak PSP-nya berwarna kuning seperti programming, typewriting, designing menjadi bakat yang bisa saya dalami karena mendukung bakat kuat saya.

Bagaimana Cara Membangun Personal Branding?

Setelah mengetahui bakat kuat, bakat lemah, serta aktivitas yang mendukung, langkah selanjutnya adalah membangun personal branding berdasarkan hasil dari assessment Strength Typology (ST-30).

ST-30 berisikan 30 jenis peran atau pekerjaan yang dapat dijadikan dasar dalam membangun personal branding, berdasarkan hasil aktivitas pada PSS. Setiap jenis peran memiliki skor yang berbeda. Lima pekerjaan dengan skor tertinggi merupakan pekerjaan yang paling sesuai dengan diri kita, sehingga kita bakal disarankan untuk membangun personal branding berdasarkan lima pekerjaan tersebut.

Penutup

Dari banyaknya tulisan di blog ini tentang pentingnya mengenali diri hingga membangun personal branding, saya baru menyadari kalau ternyata belum ada tulisan yang membahas prosesnya secara konkret. Oleh karena itu, semoga tulisan ini bisa membantu kalian untuk mengenali diri, menentukan arah personal branding, dan meyakinkan kalian untuk memiliki growth mindset. Karena pada akhirnya, bukan soal kita punya bakat atau tidak. Tapi apakah kita sudah mengenal dan mengembangkannya dengan tepat? Karena kita engga bisa hanya meyakinkan diri tanpa mewujudkan keyakinan tersebut, begitu pula sebaliknya.

Terbaru Lebih lama

Related Posts

13 komentar

  1. Ih seru banget mbaaa ikut talents mapping. Aku juga pernah ikutan sama pak Ugi tapi yang free, wkwkwk. Padahal emang bener investasi buat diri sendiri nggak rugi sama sekali. Aku jadi pengen nyoba juga nih, biar tahu kelebihan dan kekurangannya secara detail.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kan kak. Btw, yang free tuh ada bedanya ya sama yang berbayar?

      Hapus
  2. Ternyata bakat pun ada kategorinya, kuat, lemah, pendukung, dan lain-lain. Jangankan memahami orang lain, untuk memahami diri sendiri pun butuh effort yang tidak main-main. Kalau ada kesempatan pengen juga, nih, ikut talent mapping.

    BalasHapus
  3. Pas tahu bakat kita yang lebih dominan itu apa jadi makin pengen eksplor di bagian itu ya mbak. Lanjutin tulisannya tentang prosesnya secara konkret mbak. Ku tungguinnn yaaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, ada yang nungguin ternyata. Jadi semangat, deh.

      Hapus
  4. Sekolah saya rutin melaksanakan tes talent mapping. Ternyata memang sangat membantu untuk bisa melihat potensi apa yang dimiliki oleh siswa. Jadi bisa menjadi panduan untuk mengarahkan siswa dalam memilih jurusan sesuai dengan hasil talent mapping.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ih, sekolah mana tuh? beruntung banget siswa/i yang sekolah di sana. Jadi tahu potensinya lebih cepat.

      Hapus
  5. sepakat, tidak banyak orang yang menyadari dan mengenali bakatnya, salah satu cara untuk mengenali bakat diri melalui tallent mapiing. saya pernah melakukan tes ini juga beberapa tahun yang lalu dan akhirnya saya menyadari apa bakat saya, tak mengapa terlambat tapi saat ini saya lebih mengenal diri saya sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, sudah banyak ya yang nyobain tes ini. Dulu juga mikirnya gitu, kak. Ah sudah lambat deh. Tapi percayalah, kesempatan selalu datang kepada kita yang selalu mencoba

      Hapus
  6. Tallent mapiing sangat bagus ya bisa mengenali bakat dengan tepat. Sehingga bisa terarah dalam mengasahnya. Semoga ada kesempatan untuk ikut, test tallent mapiing juag.

    BalasHapus
  7. Ternyata ada cara lain untuk membangun personal branding. Saya baru tahu banget ini. Makasih, Mbak, atas sharing ilmunya.

    BalasHapus

Posting Komentar