Building Your New Networth

Posting Komentar
Beberapa tahun yang lalu, dosen saya memberikan sebuah pelajaran hidup yang menurut saya penting. Nasehat itu kurang lebih seperti ini.
“Tidak masalah kalau ada mahasiswa yang tidak mampu memahami semua mata kuliah. Orang luar negeri sendiri cenderung lebih pintar karena ahli di satu bidang. Memang ia, kalau di Indonesia kita sering kali dituntut untuk bisa segalanya. Padahal, ini keliru. Di luar negeri, kita justru didorong untuk menjadi ahli di satu bidang.”
Waktu itu masih belum bisa menangkap nasihat itu karena saya mengiranya orang yang bisa segalanya itu keren. Didikan keluarga yang menuntut untuk serba bisa membuat saya pada akhirnya bingung sendiri mana opsi yang bisa diikuti.

Namun, kebingungan itu perlahan terjawab setelah mengikuti webinarnya gritty.id tentang “How to Decide Study Abroad or Work Experiences First?”. Waktu itu, Kak Rica menjelaskan bahwa untuk membuat sesuatu, kita engga perlu skillful di semua bidang. Cukup temukan orang yang skillful di bidang yang kita butuhkan. Makanya, prinsipnya adalah orang akan mencari kita karena mereka membutuhkan skill yang kita miliki.

Salah satu contohnya adalah MindSens, sebuah startup di bidang teknologi kesehatan yang dikembangkan oleh Kak Rica bersama timnya. MindSens berfokus pada pengembangan biosensor dan perangkat medis inovatif, termasuk deteksi dini Alzheimer dan demensia. Dalam tim tersebut, setiap orang memiliki peran masing-masing, ada yang fokus pada bisnis, ada yang mendalami AI, ada yang mengurus perencanaan, dan Kak Rica sendiri berfokus pada riset bioteknologi. Dari cerita ini, saya belajar bahwa langkah awal yang penting adalah mendalami I-shaped skills terlebih dahulu. Setelah itu, barulah membangun tim yang saling melengkapi, lalu beradaptasi dengan skill lain yang relevan dengan kebutuhan pasar, seperti yang dilakukan Kak Rica ketika mulai mempelajari bisnis.

Kisah ini mengingatkan saya pada konsep net worth yang dijelaskan dalam buku You Do You. Menurut penulisnya, net worth adalah akumulasi nilai hidup seseorang yang terbentuk dari skill, influence, dan well being, yang kemudian termanifestasi dalam bentuk uang. Artinya, uang bukanlah net worth itu sendiri, melainkan hasil dari net worth yang kita bangun. Jika kita memiliki skill, influence, dan well-being yang baik, uang akan lebih mudah mengikuti.
Empat net worth menurut Fellexandro Ruby

Skill

“You are paid in proportion to the size and difficulty of the problem you solve.” – Elon Musk
Semakin kompleks masalah yang mampu kita pecahkan, semakin besar pula kontribusi yang kita berikan kepada perusahaan, institusi, organisasi, atau bisnis tempat kita berkarya. Kontribusi yang besar inilah yang pada akhirnya akan sebanding dengan reward yang kita terima. Inilah alasan mengapa, ketika bergabung dalam sebuah proyek, Kak Frey selalu menyarankan untuk melakukan yang terbaik sebisa mungkin. Bisa jadi, proyek tersebut merupakan langkah awal menuju promosi atau kesempatan yang lebih besar.

Untuk memecahkan masalah, kita membutuhkan skill, baik hard skill maupun soft skill yang dikumpulkan dan diasah melalui proses belajar, mengalami, meninjau ulang, dan memperbaiki. Meski penerapannya tidak mudah, inilah proses yang dijelaskan dalam buku You Do You. Sebelum mengasah skill, penulis menyarankan untuk memetakannya terlebih dahulu melalui beberapa tahap berikut.
1. I-shaped person
Tahap awal adalah menentukan satu skill utama yang ingin kita dalami hingga benar-benar ahli.
2. T-Shaped person
Setelah itu, kita mulai memperluas skill ke bidang lain yang masih berhubungan dengan keahlian utama tersebut.
3. M-Shaped person
Tahap ini mungkin yang dimaksud oleh bude saya. Setelah memiliki satu keahlian mendalam, kita mengembangkan beberapa skill lain yang relevan, lalu mendalaminya kembali. Hasilnya, kita memiliki beberapa keahlian kuat dari berbagai bidang.

Influence

Saat membangun influence, secara tidak langsung kita juga sedang membangun reputasi. Dalam buku You Do You, influence dimaknai sebagai reputasi. Ada tiga kunci utama dalam membangun reputasi ini.

1. Miliki karya yang bisa dibanggakan

Be so good that people google about you and your work
Be so good that people cannot ignore you
Be so good that your reputation precedes where you live and who you know


Semua itu berawal dari mengenal diri sendiri. Ketika kita memaksimalkan kelebihan dan bakat yang kita miliki, kita akan mampu menciptakan karya yang layak dibanggakan.

2. Bangunlah networking atau koneksi yang tulus

Dalam webinar, Kak Frey menekankan bahwa di era digital saat ini, membangun networking melalui komunikasi yang jujur dan bernilai sangatlah penting. Dengan membangun koneksi dan tim yang saling memahami peran masing-masing, kita bisa menciptakan sesuatu yang besar. Seperti kata Kak Rica, that’s the real networking, bukan sekadar saling kenal atau saling follow di media sosial tanpa hasil nyata.

Sesederhana menjawab pertanyaan “What do you do?” dengan jelas sudah bisa membuka peluang koneksi. Biasakan memberi nilai dalam pertemanan: membantu saat dibutuhkan, menghubungkan orang lain dengan relasi yang kita miliki, atau membagikan ilmu dan pengalaman yang bermanfaat.
“Before you ask anything from others, focus on giving. Give, give, give. At one point, people will eventually ask you.” – Alex Hormozi
Prinsip ini sejalan dengan konsep be magnetic yang disampaikan Kak Hawa, yaitu ketika kita memberi dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan, Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih besar.

3. Bangunlah personal branding secara online

Personal branding bukan pencitraan semata, tapi mentalitas bahwa
“Saya berbagi pengalaman, ilmu, dan pemikiran pribadi yang bermanfaat bagi orang lain menggunakan media yang cocok untuk dampak yang baik”
Personal branding berangkat dari karya yang bisa dibagikan seperti pembelajaran, pengalaman, maupun pemikiran yang memberi manfaat, baik secara edukatif maupun hiburan. Karena itu, membangun personal branding berarti menentukan tujuan, menjelaskan apa yang ingin orang kenal dari diri kita, dan menyatakan misi yang ingin kita sampaikan.
Tiga kunci membangun influence

Well Being

Well-being atau kesejahteraan bisa dimulai dari satu kebiasaan baik, seperti berolahraga atau menjaga pola makan. Hidup sejahtera adalah achievement yang diharapkan banyak orang. Dalam buku ini dijelaskan bahwa ketika skill, influence, dan well-being terbangun dengan baik, maka uang akan mengikuti.
 

Uang

Sebagai manusia, termasuk saya sendiri, sering kali menuntut untuk memiliki uang yang banyak. Padahal, uang sebenarnya adalah medium dan alat tukar nilai (value). Kita akan menggunakan uang untuk membeli hal-hal yang kita anggap memiliki nilai. Maka pertanyaannya adalah

Nilai (value) apa yang bisa kamu berikan ke dunia?

Oleh karena itu, penulis meminta dan mengajak pembaca (khususnya saya yang sedang berada di musim 20-an) untuk menginvestasikan diri kita sendiri, baik itu investasi pengetahuan, pengalaman, jaringan, gagasan, pekerjaan, perusahaan, dan lain-lain. Semua itu yang akan menyumbang 2, 3, bahkan 10 kali lipat pendapatan kita dalam 5-10 tahun ke depan.
“You earn more when you learn more”

Penutup

Melalui proses membangun net worth ini, saya menyadari bahwa belajar teori saja tidaklah cukup karena ujung dari proses belajar adalah kebermanfaatan. Oleh karena itu, stay curious and innovative. Belajar tidak berhenti pada tahu, tetapi berlanjut pada penerapan. Selalu tanamkan dalam diri dengan pertanyaan bagaimana ilmu yang saya miliki bisa diaplikasikan dan memberi dampak nyata bagi orang lain?
Tiga tahap belajar


Related Posts

Posting Komentar