Mengenal Diri Sendiri Sebagai Bentuk Perayaan Kemerdekaan pada Diri Sendiri

Posting Komentar
“Ku nengok di live ig tadi ada pawai, Mel. Mu ade nengok tak tadi?” tanya seorang teman waktu itu.

Saya hanya membalas singkat, “Enggak.”

Bukan karena tidak tahu ada pawai. Sebenarnya saya tahu kok, karena beberapa teman ada yang memposting di media sosial. Hanya saja, saya memilih tetap berada di dalam rumah.

Belakangan ini saya benar-benar menjadi anak rumahan. Bahkan ada acara-acara Agustusan ramai di luar sana pun rasanya tidak tertarik untuk bergabung ke sana. Sampai akhirnya, saya jadi anak yang sering murung dan kehilangan semangat karena terlalu lama memendam semuanya sendirian di rumah.

Hal yang membuat saya jadi tidak semangat ikut meramaikan acara itu adalah takut mendapatkan pertanyaan dari orang-orang tentang diri saya saat ini. Bagaimana jika mereka melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak saya senangi sekarang? Atau bagaimana jika mereka malah merendahkan saya karena melihat diri saya sekarang sudah ketinggalan dari jalur yang seharusnya? Intinya, saya belum bisa ikut merayakan kemerdekaan pada tahun ini karena masih ditakuti oleh asumsi sendiri dan validasi eksternal.
Ilustrasi Pawai Agustusan

Mengenal Diri Lebih Dalam Melalui Self Understanding Coaching dari Gritty

Berbekal rasa penasaran tentang diri sendiri karena selama ini masih kurang mampu membuat keputusan, saya akhirnya mengambil Self Understanding Coaching Batch 6 dari gritty pada dua bulan yang lalu. Ya, kalau kalian sudah sering membaca artikel-artikel di blog ini, pastinya kalian bakal melihat saya yang sering menyebut gritty. Btw, ini engga di endorse, ya. Ini memang murni saya ikut webinar dan coaching di sana, terus saya ceritakan ulang hasil pengetahuannya ke sini.

Bagi sebagian orang (terutama orang-orang di sekitar saya), mungkin ini terkesan aneh. Tidak sedikit yang menyayangkan saya karena harus mengeluarkan sejumlah uang hanya untuk bertemu psikolog dan self-growth content creator. Sudah terlihat seperti orang yang kebanyakan uang, kan? Karena in this economy, menurut mereka lebih baik uangnya digunakan untuk mengisi perut, membeli pakaian terkini, skincare-an, atau hal pokok lainnya.

Tapi percayalah, bagi seorang anak sulung yang fatherless, jauh dari orang tua, dan tinggal di tanah rantauan tanpa saudara sekampung, masukan dari orang-orang yang berpendidikan tinggi dan berwawasan luas sangatlah dibutuhkan. Memang iya harus mengeluarkan uang. Tapi kalau memang itu jalan yang harus ditempuh, bagaimana engga diambil demi menjaga kewarasan diri?

Karena setiap orang memiliki jalan hidup dan titik mulai yang tidak bisa disamakan. Coaching ini memang direkomendasikan bagi orang yang ingin mengenal diri sendiri. Bahkan untuk yang mau lanjut S2 pun ada yang mengambil coaching ini untuk membantunya membuat esai. Jadi, kalau ditanya, apakah coaching ini harus diambil? Jawabannya tergantung pada diri sendiri. Karena yang tahu apakah kita perlu mengambil atau tidak itu hanya pada diri sendiri.
Mengenali diri sendiri dan menentukan tujuan hidup

Mengambil Keputusan Secara Sadar dengan Cara Mengenali Diri Sendiri

Topik tentang mengenali diri sendiri memang sudah banyak saya tuliskan di blog ini. Tapi untuk tulisan kali ini pembahasannya lebih berbeda daripada sebelumnya. Pada artikel ini, saya akan menceritakan bagaimana mengenali diri sendiri bisa membuat kita jadi lebih mindful dalam mengambil keputusan sehingga tidak menyalahkan siapa pun ketika keputusan yang terjadi tidak sesuai dengan yang kita rencanakan. Karena ketika keputusan sesuai dengan harapan, kita pasti akan bangga dengan diri sendiri. Tapi kalau tidak, sebagian dari kita pasti akan down dan selalu mencari celah supaya ada hal yang bisa disalahkan. Padahal kalau bisa berpikir secara jernih, keputusan yang telah kita ambil adalah tanggung jawab kita.

Ketika kita memutuskan untuk mengenal diri sendiri, ternyata kita juga belajar pengalaman-pengalaman masa lalu yang membentuk nilai hidup (value) kita, kemudian nilai hidup yang kita pegang itulah yang menjadi prioritas ketika sedang mengambil keputusan. Sehingga, nilai hidup merupakan sesuatu yang mendukung karakter kita.
Kira-kira, apa saja karakter-karakter kalian? Apakah karakter kalian berbeda dengan orang lain?
Perbedaan karakter pada setiap orang
Karakter, nilai hidup, dan pengalaman setiap orang yang berbeda-beda seharusnya mengajarkan kepada kita untuk tetap merasa berharga dan bisa mencintai diri sendiri walaupun tidak ada validasi eksternal. Karena ketika masih bergantung dengan hal-hal yang ada di luar diri kita, itu ternyata bisa memengaruhi keputusan kita. Oleh karena itu, pentingnya untuk mengambil keputusan secara sadar. Setelah itu, fokus dengan keputusan yang telah diambil.

Engga perlu memikirkan ‘what if’ atau berandai-andai seperti kisah Shella pada novel Memutar Ulang Waktu. Secara teori, itu hanya akan meningkatkan kecemasan atau anxiety. Kita engga bakal tahu apakah hasilnya akan lebih bagus atau bahkan lebih buruk ketika membayangkan kalau kita sedang memilih jalan yang lain di masa lalu.

Tetapi, bagaimana jika sudah belajar mengenali diri sendiri, tapi masih tetap ragu untuk membuat keputusan?

Ini adalah kondisi yang saya alami dan kemudian pada waktu itu saya dinasihatin seperti ini.
“Apa yang kalian percayai tentang diri kalian, itulah kekuatan utama kalian,” ucap Rica Asrosa pada waktu coaching kemarin.
Nasihat itulah yang membuat saya menjadi sadar betapa pentingnya memiliki self-worth tentang diri sendiri. Percuma kita tahu bakat, skills, dan kekuatan pada diri kita, tapi pada akhirnya itu semua hanya berhenti karena asumsi, ketakutan, dan overthinking yang kita ciptakan di atas kepala kita sendiri.

Jujur, saya setuju banget. Sesimpel tidak mendokumentasikan keseharian sampai tidak ikut meramaikan acara kemerdekaan pada bulan ini membuat saya sadar kalau selama ini saya belum bisa memerdekakan diri saya sendiri.

Bagaimana bisa berbicara tentang cara memeriahkan kemerdekaan tetapi diri sendiri saja belum merdeka?

Padahal kalau kita mau melakukan sesuatu, tetapi masih ada asumsi-asumsi tertentu pada pikiran, pilihannya hanya satu, yaitu just do it. Kalau memang ternyata terjadi sesuai pikiran kita, ya sudah kita ambil pelajaran atau hikmahnya. Karena pengalaman itu selalu meninggalkan sesuatu, bisa berupa kekuatan ataupun luka.
“We don’t grow from experience itself. We grow from reflecting on that experience.” - John Dewey
Tetapi kalau memang tidak sesuai dengan pikiran kita, itu membuktikan bahwa apa yang kita pikirkan belum tentu sesuai dengan kejadian.
Cara merayakan kemerdekaan versi kita
Jadi, mumpung masih di bulan kemerdekaan, yuk rayakan kemerdekaan versi diri sendiri dengan melihat diri kita sebagai orang yang berharga terlepas dari status eksternal yang kita punya, seperti profesi, jabatan, kedudukan, dan sebagainya.

Karena dengan mencintai diri sendiri, itu juga akan membantu kita untuk menentukan passion, tujuan hidup, dan rencana hidup. Pada artikel berikutnya, saya akan membahas tentang proses mengenal diri sendiri yang bisa membantu saya memahami passion, tujuan hidup, dan rencana hidup.

Oh iya, kalau kalian penasaran info tentang Self Understanding Coaching, kalian bisa lihat di instagram dan website resminya gritty, ya. Karena untuk batch 7 sekarang sudah dibuka.

Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar