Mengenal Diri Sendiri Sebagai Bentuk Perayaan Kemerdekaan pada Diri Sendiri

Posting Komentar
Bagaimana perayaan kemerdekaan di tempat kalian?

Sejujurnya, saya engga tahu persis seperti apa perayaan 17 Agustusan di tempat saya sekarang. Saya hanya tahu ada pawai, gerak jalan, jalan santai, dan lain-lain. Itu pun karena dulu pernah ikut. Tapi untuk detail pelaksanaannya, seperti perbedaan tahun ini dengan tahun lalu, saya engga tahu.
Ilustrasi Pawai Agustusan

Berarti engga merayakan kemerdekaan, dong?

Iya, engga. Bagaimana saya bisa merayakan kemerdekaan tapi ternyata diri saya tidak merdeka? Bagaimana saya bisa ikut meramaikan perayaan ulang tahun Indonesia untuk ke-81 nya, tapi ternyata saya masih punya tugas-tugas dalam diri yang masih belum terselesaikan?
 

Merdeka Mulai dari Diri Sendiri

Semakin hari, saya semakin mengkritisi diri sendiri. Berbagai pemikiran negatif pun hinggap di dalam benak saya. Apalagi kalau ada yang bertanya tentang diri saya, saya seperti engga bisa menjawab pertanyaan mereka. Makanya tidak heran kalau ada beberapa orang yang nge-judge saya. Setelah itu langsung kebawa pikiran, lagi.

Kayak dia tahu kehidupan saya saja, deh.

Jangan-jangan saya selama ini belum mengenal diri sendiri?

Asumsi tersebut semakin benar pada saat saya diminta memperkenalkan diri sendiri tanpa menyebut profesi, jabatan, kedudukan, dan sebutan eksternal lain. Ya, pada saat Self Understanding Coaching di week 4, ternyata saya masih belum mampu mendeskripsikan diri sendiri sebagai Amelia.

Proses mengenal diri sendiri memang memakan waktu panjang, yakni seumur hidup. Kita engga akan bisa mengenal 100% seperti apa diri kita sendiri. Karena yang mengenal diri kita sebenarnya adalah Allah. Dia yang lebih tahu tentang kita, daripada diri kita sendiri.

Namun, dalam proses penerimaan takdir dan situasi, saya rasa mengenal diri sendiri itu juga penting. Selain agar bisa mendeskripsikan diri, mengenal diri juga bisa membangun rasa percaya diri yang lebih tinggi, mengontrol emosi dan mengatur stres dengan baik, dan meningkatkan kualitas hubungan dan komunikasi. Itulah benefit dari mengenal dan memahami diri sendiri yang dijelaskan sama Kak Raras pada awal coaching. Manfaat-manfaat tersebut adalah perwujudan dari sikap kita yang sudah legowo dengan takdir hidup yang telah Allah berikan.

Jadi, kalau kita sudah selesai dengan diri sendiri dan sudah bisa menyelesaikan tugas-tugas yang ada di dalam diri kita, kita bisa ikut merayakan kemerdekaan seperti orang-orang di luar sana, kan?
 

Memahami Pengalaman Hidup untuk Menyadari Karakter-Karakter pada Diri

Langkah pertama untuk mulai mengenali diri sendiri adalah dengan melihat dan menyadari karakter-karakter pada diri kita. Karena dalam psikologi, karakter adalah sesuatu yang cenderung menetap, tapi bisa berubah ketika peran kita berubah. Oleh karena itu, diri kita hari ini bukanlah versi final. Diri kita di hari esok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan, dan seterusnya juga bukan versi final. Karena manusia senantiasa berkembang.

Contohnya, saya memiliki karakter ambisius. Karakter ini muncul semenjak mendapatkan ranking 1 pada saat kelas 4 SD. Padahal, sebelum-sebelumnya saya engga merasa punya karakter itu. Boro-boro mau ambisius waktu kelas 1 SD, saya malah belum lancar membaca dan menulis. Sampai-sampai mama pusing dan memasukkan saya les sana sini. Tapi pas kelas 4 SD, saya malah bisa dapat ranking dan ditawari berbagai macam lomba akademik padahal waktu itu tidak les.

Munculnya pengalaman itu membuat saya jadi lebih termotivasi untuk belajar lebih banyak lagi agar tetap dapat ranking satu dan bisa ikut banyak lomba. Karakter ambisius itupun terbawa sampai saya menjadi mahasiswa sekarang. Tapi saya sadar, tidak selamanya karakter itu positif.

Karakter itu juga bisa berdampak negatif. Dengan karakter ambisius itu, saya jadi engga pernah merasa cukup dengan pencapaian saya. Saya selalu saja merasa kurang, sampai menjadikan orang lain sebagai tolak ukur. Ketika saya bisa meraih pencapaian seperti atau bahkan melebihi orang lain, saya baru merasa puas.

Tapi faktanya, akan selalu ada orang yang lebih baik dari kita, bukan? Di atas langit masih ada langit lagi.

Makanya, pada saat coaching kemarin saya dilatih untuk menerima progres daripada hanya mengejar kesempurnaan. Latihan ini mengajarkan saya untuk bersyukur atas hal-hal kecil, fokus sama hal-hal yang kita punya, dan tidak fokus ke hal-hal yang tidak kita punya. Caranya adalah dengan menuliskan satu hal yang sudah saya lakukan cukup baik pada hari ini. Refleksi dan apresiasi ini menjadi semacam terapi agar setiap bangun tidur kita bisa membawa emosi yang positif. Jadi, emosi negatifnya dihilangnya terlebih dahulu sebelum tidur.

Kembali ke karakter. Dari satu karakter ambisius itu ternyata bisa menjadi karakter yang positif dan negatif, ya. Tapi secara psikologis, karakter itu sifatnya netral. Berubahnya menjadi positif maupun negatif itu sebenarnya ada di dalam kendali kita, yaitu bagaimana kita memunculkannya ke dalam lingkungan.

Faktanya, karakter negatif itu tidak bisa dibuang. Karena karakter positif dan negatif dalam psikologis itu seimbang atau tidak berat sebelah. Jadi, cara mengatasinya adalah dengan mengenali dan menyadari emosi tersebut melalui refleksi ke diri kita sendiri atau minta feedback ke orang lain.

Selain membentuk karakter-karakter pada diri kita, pengalaman yang turut membentuk nilai hidup (value) kita. Nilai hidup adalah sesuatu yang menjadi panduan dalam keseharian kita dan mendukung karakter kita. Nilai hidup inilah yang menjadi prioritas kita ketika sedang mengambil keputusan, mulai dari keputusan sederhana sampai keputusan besar seperti membuat tujuan hidup.

Semoga artikel ini bisa membantu kalian untuk memerdekakan diri kalian, ya. Karena diri yang merdeka adalah diri yang mengenal karakter, nilai diri, dan pengalaman yang membentuk diri kita, sehingga kita lebih percaya diri untuk ikut merayakan kemerdekaan.

Related Posts

Posting Komentar