“I saw my life branching out before me like the green fig tree. One fig was a husband and a happy home and children, another fig was a famous poet, another fig was a brilliant professor, another fig was Europe and Africa and South America, and beyond and above these figs were many more figs I couldn’t quite make out. As I sat there, unable to decide, the figs began to wrinkle and go black, and, one by one, they plopped to the ground at my feet.” - Sylvia Plath, The Bell JarBayangkan hidup kita adalah pohon tin. Pohon itu memiliki banyak cabang dan setiap ujung cabang memiliki buah tin yang besar. Anggap saja buah-buah itu adalah pilihan. Kita melihat ada banyak pilihan dalam hidup dan kita mau memilih semuanya. Namun, sering kali kita merasa harus memilih satu pilihan tersebut. Kita kemudian overthinking karena engga tahu mana satu pilihan yang harus diambil, hingga akhirnya buah-buah itu pada busuk semua.
![]() |
| Cara Mengurangi Overthinking dan Ketakutan Gagal Melalui Multiidentitas |
Jadi, apa solusinya?
Daripada overthinking, bagaimana jika kita coba petik satu buah terlebih dahulu, kemudian di waktu yang lain kita coba ambil buah yang berbeda? Analogi seperti ini yang dipaparkan pada awal buku untuk memperkenalkan konsep dari multiidentitas. Artikel sebelumnya sudah menyebutkan tentang multiidentitas untuk membangun pribadi yang tangguh, kompetitif, dan percaya diri. Lalu, seperti apa sih orang yang multiidentitas itu? Mengapa identitas seperti itu bisa membentuk diri kita menjadi orang yang tangguh?
Monoidentitas vs Multiidentitas
Selama ini saya selalu merasa kalau mau jadi orang yang menang, saya harus menjadi yang terbaik. Apakah ada yang merasakan hal yang sama?Membaca kisah akademisnya Zahid pada buku ini membuat saya sadar kalau ternyata saya tidak sendirian. Dalam buku ini, Zahid menceritakan bahwa selama tiga kali penerimaan rapor di kelas 1 SD ia mendapatkan peringkat teratas. Hal ini membuat dirinya merasa sangat pintar, mendapatkan pujian dari orang tua, bahkan mendapatkan perhatian spesial dari kelas. Namun, kesenangan tersebut ternyata tidak bertahan lama. Pada penerimaan rapor berikutnya, peringkatnya malah turun. Momen itu membuatnya merasa hancur sehingga untuk pada tahun-tahun berikutnya ia menjalankan hidup sebagai kisah calon bintang yang gagal mewujudkan potensinya.
Singkat cerita, ia akhirnya sadar. Apabila ia melihat identitasnya sebagai siapa dirinya secara akademik, ia pun rentan runtuh, hancur, bahkan mulai menutup diri. Itu juga yang saya alami selama menduduki bangku sekolah. Ketika peringkat menurun dari semester sebelumnya, saya dengan mudahnya mengklaim bahwa saya sudah menjadi anak yang gagal. Bahkan perasaan menyalahkan diri sendiri itu pun terbawa sampai menjadi mahasiswa.
Untungnya saya bertemu dengan buku ini. Buku ini mengajak kita untuk mengenal diri sendiri dan mencari tahu identitas kita di luar satu identitas yang selama ini kita miliki. Ia pun mencari tahu identitasnya mulai dari YouTube, hingga membawanya menjadi seorang content creator yang bisa kita lihat sekarang. Dari yang awalnya hanya belajar proses upload dan mencari tahu bagaimana video-video tertentu bisa menghilang dari peredaran, sampai akhirnya pandemi Covid-19 membuat dirinya menjadi populer. Kemudian pada pertengahan pandemi, ia mencoba membangun identitasnya sebagai pelari. Di saat yang bersamaan dengan waktu dia sekolah, waktu membangun identitas sebagai YouTuber, bahkan sampai saat ia menjadi pelari pun, ia tetap menyempatkan waktu untuk belajar bahasa asing. Kondisi tersebut membuat ia melihat dirinya sebagai pembelajar bahasa. Dengan begitu, ketika dia kembali ke dunia akademik sebagai mahasiswa, ia selalu menemukan cara lain untuk meningkatkan kepuasan berkali-kali lipat.
![]() |
| Perbedaan Monoidentitas dan Multiidentitas |
Masih banyak lagi identitas yang dibangun oleh penulis buku ini. Sampai akhirnya, ia merasa kalau ada satu saja yang hilang atau terambil darinya, ia bukanlah Zahid yang ia kenal. Perspektif seperti ini membuatnya berkaca kalau suatu hari nanti dia iri dengan pencapaian, kehidupan, atau aspek pada diri orang lain, dia akan bertanya pada diri sendiri,
“Kalau aku harus bertukar posisi dengan orang tersebut, termasuk merelakan segala ketertarikan, kenalan, keluarga, memori, pengalaman hidup, tim bola favorit, dekorasi rumah, dan kucing-kucingku. Apakah aku bersedia?” - Zahid Ibrahim
Mengenal Makna Multiidentitas Lebih Dalam
Sebagai penggemar buku pengembangan diri sejak memasuki era quarter life crisis pada masa pandemi covid-19, membaca buku ini rasanya seperti dinasihatin sama kakak sendiri. Jika selama ini saya bisa belajar bagaimana saya tidak membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain secara mindset, maka kali ini saya belajar secara prakteknya. It was really helpful for me. Karena kesadaran saja tidak cukup, perlu ada tindakan konkretnya.Buku ini juga berhasil mematahkan stigma yang selama ini merasa harus menjadi orang yang terbaik terlebih dahulu baru bisa menjadi orang yang tangguh. Sehingga, ketika saya engga bisa menjadi yang terbaik, saya bakal ciut. Padahal, kehidupan sekarang engga seperti itu. Pada saat saya keluar dari tempurung, ternyata ada banyak orang yang memiliki multiidentitas. Jadi, ketika identitas A dan B sedang tidak memihak kita, kita masih punya identitas C, bahkan D, E, dan seterusnya.
![]() |
| Contoh Bagian dari Isi Buku |
Jadi, buat kalian yang ingin mengenal makna multiidentitas lebih dalam, atau sedang mengalami kebingungan untuk memaksimalkan potensi supaya bisa meraih mimpi yang besar, buku ini recommended deh untuk dibaca. Jumlah halamannya juga engga banyak (196 halaman) jadi bukunya ringan, gaya penulisannya juga mudah dipahami, dan diselipkan tampilan visual yang menarik pastinya membuat kalian jadi betah deh bacanya.
Palingan hal yang menantang dari buku ini adalah ketemu sedikit tulisan yang berbahasa Inggris. Tapi it’s ok. Karena itu bisa jadi kesempatan kita untuk belajar, hehe.
Semoga artikel ini bisa membantu kalian yang sedang bingung potensi diri, ya. Kalau mau tahu lebih detail tentang multiidentitas, bisa baca di Gramedia Digital (seperti saya) atau beli bukunya di toko buku resmi.
Judul Buku: Multiidentitas
Penulis: Zahid Ibrahim
Jumlah Halaman: 196 halaman
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun Terbit: 2026
#ReadingChallangeODOP2026 #TugasTantanganRCO



Posting Komentar
Posting Komentar