Saya belum selesai membaca buku ini. Tapi ada satu bagian dari tulisannya yang menarik bagi saya, yaitu orang-orang yang high value membangun hubungan secara horizontal, bukan vertikal. Maksudnya, bagaimana tuh?
![]() |
| Alasan untuk Tidak Canggung Ketika Bertemu Orang-Orang yang High Value |
Orang-Orang yang High Value Membangun Hubungan Secara Horizontal, Bukan Vertikal
Sejatinya, setiap orang itu memiliki kedudukan yang sama di mata Allah. Baik rakyat biasa, pejabat, sekaligus kepala negara pun memiliki kedudukan yang sama di mata-Nya. Oleh karena itu, hubungan antar sesama manusia (habluminannas) posisinya adalah horizontal. Sementara hubungan antara manusia dengan Tuhannya (habluminallah) disebut ibadah vertikal.![]() |
| Hablumminallah dan Hablumminannas |
Pandangan seperti ini juga yang dimiliki oleh orang-orang yang memiliki high value. Di dalam buku ini menjelaskan bahwa mereka yang merupakan influencers raksasa, bos-bos multimiliarder, artis, hingga mantan menteri adalah mereka yang tidak ingin melihat seseorang bersujud di hadapan mereka atau kakinya dicium. Justru, cara untuk membangun relasi yang lebih dalam bersama mereka adalah memperlakukannya seperti teman atau rekan profesional yang serius, bukan hanya sekadar fans.
Informasi pada buku ini pada akhirnya membuat saya sadar. Sebagai anak yang dibesarkan dari lingkungan yang apa-apa harus sampai sembah sujud, ternyata didikan seperti ini sudah kurang tepat apabila kita dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki high value seperti yang saya sebutkan di atas. Mereka hanya ingin dihargai sebagaimana kita juga ingin dihargai oleh orang lain. Namun, cara untuk menghargai mereka bukanlah memperlakukannya sebagai Tuhan. Melainkan dengan menjadikannya sebagai teman yang tulus atau rekan profesional yang serius. Karena mereka percaya, pada dasarnya setiap orang itu unik. Setiap manusia tidak bisa dibandingkan. Inilah yang menjadikan kita dengan mereka adalah setara. Yang membedakan kita dengan mereka adalah perspektif (cara pandang setiap individu).
Berarti didikan saya salah, dong?
Balik lagi, mereka memiliki perspektif yang berbeda dengan diri saya. Perbedaan perspektif ini disebabkan karena pengalaman hidupnya atau orang-orang di sekitar mereka sehingga saya dididik dengan cara seperti itu. Tugas kita bukanlah menyalahkan mereka, tetapi mengadaptasi nilai-nilai positif dari mereka untuk menghadapi persoalan hidup yang ada di depan mata kita.
“Tapi, dia kan punya harta banyak, saudara banyak, dan kuliahnya sampai di kampus yang bergengsi di dunia. Sementara kita tidak. Jadi, jangan dibandingkan dong dengan tulisan dia.”Keresahan ini pun membuat saya akhirnya mengambil talents mapping dan self understanding coaching. Meskipun harganya bisa dibilang tinggi, tetapi keresahan dalam otak dan hati ternyata tidak bisa dibohongi. Di tengah penuhnya pencapaian yang dipajang oleh teman-teman di media sosial, ketika pernah dituduh mengambil keputusan yang salah, hingga kondisi sekitar yang kerap membicarakan tentang orang lain, saya sangat membutuhkan buku bacaan yang bergenre pengembangan diri dan masukan dari profesional untuk menjaga kesehatan mental saya.
Talents Mapping dan Self Understanding Coaching
Pada tahun 2025 akhir kemarin, saya coba mengambil talents mapping untuk mencari tahu apakah saya salah dalam mengambil keputusan? Waktu itu saya berpikir, kalau saya sudah ketemu jawaban dari talents mapping, saya bakal lebih percaya diri untuk memutuskan langkah berikutnya karena ada sesi free consulting terkait hasil talents mapping.Ternyata hasil dari talents mapping menunjukkan bahwasanya pilihan saya pada Teknik Informatika engga salah, kok. Bakat kuat saya seperti analysing dan testing ternyata digunakan pada saat saya menjalani perkuliahan di jurusan ini. Contohnya, analysing dapat digunakan untuk menganalisis apa saja fitur-fitur yang dibutuhkan untuk membuat sebuah aplikasi. Sementara testing digunakan untuk memastikan apakah kualitas dari aplikasi yang dibuat telah sesuai dengan yang direncanakan. Dengan begitu, saya pun bisa fokus untuk mengembangkan bakat kuat tersebut melalui jurusan kuliah yang sudah saya pilih.
![]() |
| Analysing dan Testing |
Begitu pula dengan self understanding coaching yang baru-baru ini saya ikuti. Dari mengikuti coaching tersebut, saya perlahan mulai menyadari bahwa mengenali diri sendiri itu bukan hanya sekadar tahu mau jadi apa dan ke mana, tapi juga kenapa.
Wawasan dari self understanding coaching dan talents mapping itu membuat saya lebih paham tentang banyaknya identitas yang dimaksud oleh Zahid Ibrahim dalam buku multiidentitas. Selain jadi mahasiswa, mengapa dia juga menjadi YouTuber, pelari, bahkan pembelajar bahasa asing? Padahal kelihatannya empat profesi tersebut tidak berkesinambungan.
Bisa jadi itu semua merupakan bakat kuatnya, atau tiga profesi tersebut bisa jadi mendukung bakat kuatnya. Dengan begitu, multiidentitas yang dibangun seperti itu membuatnya menjadi pribadi yang lebih tangguh, kompetitif, dan percaya diri.
Jadi, untuk saya maupun kalian yang masih sering merasa canggung ketika bertemu orang-orang yang high value, semoga artikel ini bisa membantu, ya. Nantikan reviu buku Multiidentitas di postingan selanjutnya.



Posting Komentar
Posting Komentar