Unlocking New Habits in 2025: Journalling

Posting Komentar
Salah satu kegiatan yang ingin saya biasakan pada tahun 2025 ini adalah journalling. Keinginan ini sebenarnya lahir dari salah satu kegiatan yang teman saya sering lakukan pada waktu itu, yaitu menuliskan tentang apa saja kegiatan yang ingin dia lakukan dalam satu hari, satu minggu, bahkan satu bulan. Dari semua kegiatan yang telah ditulis, ia juga mencantumkan deadline dari setiap kegiatan tersebut. Selain kegiatan, ia juga mencatat apa saja barang yang akan ia beli kemudian menuliskan seberapa penting barang-barang tersebut. Semua hal itu dia tuliskan di binder yang sering dia bawa dan papan tulis kecil yang nempel di dinding meja belajar atau kerjanya.
Inspirasi Journalling
Oh iya, dia juga menuliskan rancangan project yang akan dia kerjakan secara detail di bindernya. Itu menjadi satu momen yang membuat saya bersyukur karena pernah mempelajari mata kuliah yang membahas tentang analisis dan perancangan sistem, seperti Analisis dan Perancangan Perangkat Lunak (APPL) dan Analisis dan Desain Perancangan Objek (ADBO). Ternyata, ilmu itu sangat penting meskipun seringkali dianggap sebelah mata.

Bisa Berisikan Tentang Apa Saja dan Dilakukan di Mana Saja

Dari kegiatan yang dilakukan oleh teman saya dan pengalaman selama belakangan ini, saya sadar bahwa journalling dapat berisi tentang apa saja yang dirasakan, apa saja ilmu yang didapatkan, apa saja kegiatan yang harus dikerjakan, sampai apa saja barang yang akan dibelanjakan. Rasanya seperti punya manager pribadi yang mengingatkan saya sebagai orang yang sering lupa.

Selain itu, journalling juga dapat dilakukan di mana saja, baik di buku fisik, maupun di media digital yang dua-duanya dapat dibawa ke mana saja. Saya pribadi lebih nyaman menulis di buku fisik karena merasa lebih bebas. Menurut Roland Jouvent, kepala Adult Psychiatry di Rumah Sakit Pitié-Salpêtrière Paris yang diungkapkan oleh Kenya Swawikanti, ketika menulis menggunakan tangan, ada unsur tarian dan melodi yang dilibatkan, sehingga tulisan kita jadinya memiliki emosi. Meskipun begitu, media digital menurut saya lebih fleksibel karena bisa dilakukan pada device mana saja selagi terhubung dengan akun yang berkaitan.
Journalling dapat dilakukan di mana saja
Meskipun belum konsisten journaling, tapi ada beberapa manfaat yang telah saya rasakan selama belakangan ini, yaitu:

Mensyukuri Hal-Hal yang Kecil

Ketika berhasil menuntaskan beberapa kegiatan yang telah dituliskan atau direncanakan, rasanya jadi senang engga sih? Momen sesimpel itu membuat saya bersyukur karena bisa menuntaskannya pada hari itu dan menjadi bukti untuk kemudian hari jika otak ini tiba-tiba berpikir, “Selama ini ngapain aja, ya?”

Journalling juga bisa diisi dengan menjawab pertanyaan tentang “Apa yang saya syukuri pada hari ini?”. Ada beberapa momen yang terkadang membuat sadar bahwa bersyukur tidak harus dengan hal-hal yang besar seperti mendapatkan mobil emas. Tapi bersyukur juga bisa dilakukan ketika kita menerima hal-hal yang terlihat kecil tapi sangat berdampak dalam hidup, seperti bisa bernapas dan diberikan kesehatan secara jiwa dan raga.

Momen-momen random seperti belajar dari orang lain, dinasihatin orang lain, mendapatkan ilmu baru yang mencerahkan pemikiran, atau tiba-tiba diselamatkan oleh orang yang tidak dikenal sering kali saya jadikan sebagai bahan dalam journalling. Karena tidak semua informasi mampu diingat sama otak, kan?
Mensyukuri Hal-Hal Kecil










Mengenal Diri Sendiri

Sudah bukan hal yang asing lagi kalau journalling bisa menjadi media untuk mengenal diri sendiri. Mengenal diri sendiri di sini bukan sekadar tahu apa yang kita suka atau tidak suka, tetapi tentang memahami bagaimana kita berpikir, bereaksi, dan memaknai suatu peristiwa.

Melalui journalling, saya jadi lebih sadar bahwa emosi yang muncul dalam diri sering kali tidak berdiri sendiri. Ada sebab, pemicu, dan pola yang berulang. Misalnya, rasa resah yang datang selama ini ternyata muncul ketika saya terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain, atau ketika ekspektasi saya tidak berjalan sesuai rencana. Hal-hal seperti ini sering kali luput dari perhatian jika hanya dipendam di kepala. Maka dengan menuliskannya, saya seperti sedang berdialog dengan diri sendiri sehingga journalling tidak lagi sekadar menulis, tetapi menjadi ruang refleksi yang jujur dan aman.
Dialog dengan diri sendiri






Menariknya, pengalaman ini ternyata sejalan dengan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Salsabila dan Faishol dalam jurnalnya yang berjudul “Peran Self-Journaling dalam Merefleksikan Kecintaan pada Diri Sendiri Siswa Kelas XII di SMAN 4 Purwokerto”. Penelitian ini mengobservasi empat siswa kelas XII di SMAN 4 Purwokerto yang sulit mengekspresikan diri dan memiliki tingkat self-love yang rendah. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa proses journaling membantu para siswa tersebut menjadi sadar akan pentingnya self-care dan self-compassion sebagai bentuk mengekspresikan rasa cinta mereka terhadap diri sendiri.

Meredakan Emosi yang Tidak Terkendali

Ada saatnya seluruh emosi negatif seperti marah, sedih, kecewa, cemas, atau lelah secara mental datang bersamaan. Tapi, kalau semua itu hanya disimpan di kepala, rasanya seperti memikul beban yang semakin berat. Iya, engga sih?

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Mannesa dan Nur pada jurnal yang berjudul “Peningkatan Regulasi Diri Melalui Journaling: Studi pada Remaja Perempuan” menyatakan bahwa journalling terbuktif efektif untuk meningkatkan pengelolaan emosi, pengendalian impuls, dan perencanaan masa depan, khususnya pada remaja perempuan.

Untuk itu, diperlukan journalling sebagai salah satu cara untuk mengeluarkan emosi-emosi negatif tersebut tanpa harus melukai siapa pun, termasuk diri sendiri. Tidak ada aturan harus rapi, tidak ada kewajiban harus positif. Kadang isinya berantakan, penuh keluhan, bahkan terasa sangat emosional. Tapi justru di situlah letak fungsinya. Ketika emosi dituangkan ke dalam tulisan, intensitasnya perlahan menurun. Pikiran yang awalnya terasa penuh akhirnya menjadi lebih lega. Masalah yang tadinya terasa sangat besar, perlahan terlihat lebih proporsional ketika dicoba mem-break down apa saja langkah-langkah kecil yang bisa dilakukan untuk memecahkannya.

Penutup

Sepanjang manfaat yang dituliskan di sini, semoga tulisan ini bisa membuat saya dan kalian yang sedang membaca artikel ini untuk memulai dan membiasakan journalling, ya. Yuk, siapin catatan kalian untuk mulai membiasakan journalling di tahun 2025 ini.

Sumber:

[8 Manfaat Journaling, Cara Kreatif untuk Stabilkan Kesehatan Mental](https://www.ruangguru.com/blog/manfaat-journaling)

Salsabila, A., & Faishol, L. (2025). Peran Self-Journaling Dalam Merefleksikan Kecintaan Pada Diri Sendiri Siswa Kelas XII Di SMAN 4 Purwokerto. SHINE: JURNAL BIMBINGAN DAN KONSELING, 5(2), 47-56.

IS, M. M., & MALIK, N. (2025). PENINGKATAN REGULASI DIRI MELALUI JOURNALING: STUDI PADA REMAJA PEREMPUAN. PSYCHOPOLYTAN: JURNAL PSIKOLOGI Учредители: LPPM Universitas Abdurrab, 8(2), 16-30.

Related Posts

Posting Komentar