Dilema Ikut Organisasi Mahasiswa atau Tidak

Posting Komentar
Pernah engga sih merasa dilema ikut ormawa atau engga?

Sebagai mahasiswa, saya sendiri pernah merasakannya. Ormawa atau singkatan dari organisasi mahasiswa merupakan salah satu privilege yang disediakan kampus bagi mahasiswanya untuk bereksplorasi. Ketika kita memutuskan untuk bergabung di dalamnya, ada banyak hal yang bisa kita dapatkan mulai dari relasi baru, informasi, hingga pengalaman yang tidak kita temui di ruang kelas. Karena itu, mengikuti ormawa sering kali dianggap sebagai kesempatan yang sayang untuk dilewatkan.

Selama kuliah, ada banyak jenis ormawa yang bisa kita ikuti, mulai dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa (HIMA) di setiap jurusan, hingga berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang mewadahi minat dan hobi tertentu. Namun, kalau ditanya apakah saya sudah merasakan semua itu, jawabannya tentu saja tidak.

Saya jadi teringat momen mudik kemarin, saat tidak sengaja bertemu seorang teman di kapal yang sama. Di tengah obrolan santai, ia bertanya,
“Koe tak ikut hima, Mel?"
Dengan jujur saya menjawab tidak. Ia pun membalas singkat,
“Hm, tak keren.”
Jawaban itu sempat membuat nyali saya ciut. Tidak bisa dimungkiri, ada rasa menyesal karena dulu saya tidak mencoba bergabung di beberapa organisasi, seperti HIMA. Padahal, dari organisasi kita bisa belajar banyak hal yang tidak diajarkan di kelas seperti kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, beradaptasi, kepemimpinan (leadership), dan masih banyak lagi. Apalagi sekarang melihat pencapaiannya yang kian banyak karena keaktifannya mengikuti berbagai organisasi.

Dari titik itulah saya mulai bertanya ke diri sendiri, “apakah semua mahasiswa memang harus ikut organisasi?”

Untuk menjawabnya, mari kita bahas lebih dalam.
Dialog di atas kapal

Perlukah Mengikuti Organisasi?

Pada akhirnya, jawaban tentang perlu atau tidaknya mengikuti organisasi itu ada pada kita sendiri. Oleh karena itu, sebelum menjawab apakah kita akan mengikuti organisasi ini itu, ada baiknya kita menjawab pertanyaan tentang siapa diri kita dan bagaimana cara kita melihat diri kita sendiri pada 5-10 tahun mendatang terlebih dahulu.
- Kalau ingin terjun di dunia pemerintahan dan politik, pengalaman organisasi menjadi penting.
- Kalau ingin menjadi aktivis, pengalaman volunteer dan komunitas adalah faktor utama.
- Kalau ingin berkarya di dunia akademisi atau menjadi peneliti, pengalaman riset lah yang menentukan.

Karena pengalaman harus sejalan dengan tujuan. Setiap mahasiswa memiliki jalan yang berbeda untuk menorehkan pencapaiannya.

Ketika Organisasi Menjadi Ruang Belajar

Sebagai mahasiswa yang harusnya menjalankan tri darma perguruan tinggi, organisasi sebenarnya berperan penting dalam perjalanan kita. Bukan karena jabatan yang tinggi, tapi tentang proses pembelajaran yang ada di dalamnya.

Menurut saya, organisasi itu seperti laboratorium sosial yang menjadi tempat di mana kita belajar gagal, bangkit, dan bertumbuh bersama orang lain yang memiliki karakter yang berbeda. Karena di sini, kita belajar realita yang ada. Belajar bagaimana cara menghadapi banyak kepala yang pastinya memiliki pendapat yang berbeda, bagaimana cara mengelola konflik jika ada yang tidak sependapat, bagaimana menyelesaikan masalah dengan sumber daya terbatas, sampai belajar bertanggung jawab atas keputusan yang telah kita buat. Proses belajar ini secara tidak langsung melatih soft skill yang sangat berguna di dunia kerja nanti.

Namun, perlu digarisbawahi bahwa organisasi hanyalah alat untuk bertumbuh, bukan tujuan akhir. Dari pengalaman saya yang sempat terlibat aktif dalam berbagai kegiatan organisasi, saya menyadari bahwa tidak semua organisasi sejalan dengan bidang ilmu yang saya tekuni. Karena itulah, pada satu titik saya memutuskan untuk berhenti berorganisasi, bukan karena menyerah, tetapi karena sudah tidak lagi sesuai dengan kondisi dan tujuan pribadi.
Organisasi tempat belajar

Bagaimana Jika Memilih untuk Tidak Berorganisasi?

Faktanya, tidak semua mahasiswa memilih jalan organisasi. Ada teman-teman yang fokus berorganisasi, ada pula yang memilih jalur lain. Jika diperhatikan, mereka yang tidak berorganisasi sering kali adalah mahasiswa yang kuliah sambil bekerja atau benar-benar memanfaatkan waktunya untuk belajar dan mengembangkan diri.

Contohnya adalah Kak Rica Asrosa, seorang dosen di Universitas Sumatera Utara (USU) yang sedang menempuh pendidikan S-3 di Inggris. Saya pernah membaca highlight Instagramnya yang menceritakan bahwa Kak Rica tidak pernah memiliki pengalaman organisasi seperti perhimpunan mahasiswa, BEM, paguyuban, dan sejenisnya karena ingin fokus ke pengalamannya di bidang riset. Yap, jika kalian pernah membaca bukunya, ia sendiri lebih banyak menghabiskan masa S-1 nya dengan mengikuti penelitian bersama dosen dan mengajar part-time.

Menurut Kak Rica, leadership tidak selalu berarti menjadi ketua organisasi. Kepemimpinan adalah tentang pengaruh dan dampak yang kita berikan kepada orang-orang di sekitar. Jadi, jika ingin memiliki kemampuan kepemimpinan, fokuslah pada kontribusi nyata, bukan semata-mata pada posisi.
Leadership is not a position or a title, it is action and example. — Cory Booker
Karena itu, jika kita memilih untuk tidak berorganisasi, pastikan waktu yang ada benar-benar dimanfaatkan dengan baik, entah untuk bekerja, menambah pengalaman, atau mendalami ilmu agar menjadi ahli di bidang tertentu.

Dalam konteks mahasiswa teknik informatika, pilihan untuk tidak berorganisasi sering kali diwujudkan dengan fokus mendalami kompetensi teknis atau mengambil kerja part-time. Misalnya, ketika memutuskan untuk fokus mempelajari coding, pastikan kita memahami ilmu yang diperoleh selama kuliah seperti perancangan dan analisis algoritma yang merupakan salah satu mata kuliah di semester empat. Mata kuliah ini sangat berguna untuk melatih cara kita berpikir secara efisien untuk menyelesaikan masalah komputasi dan menjadi dasar untuk mata kuliah di semester berikutnya.
“Milikilah kapabilitas, sampai orang tidak punya pilihan selain memilih kamu.” - Rica Asrosa
Kutipan ini mengingatkan kita bahwa pada akhirnya, orang akan memilih kita karena kapabilitas yang kita miliki. Dengan kapabilitas yang kuat, posisi kita tidak akan mudah tergantikan.

Semoga artikel ini bermanfaat buat kalian yang sedang dilema apakah mau organisasi atau tidak, ya.

Related Posts

Posting Komentar